Paripurna Sepi, Komitmen Ikut Absen?
- account_circle Redaksi
- calendar_month 51 menit yang lalu
- print Cetak

Oleh: Wawan Hidayat, Ketua DPD Jaringan Pendamping Kebijakan Pembangunan (JPKP) Tubaba
Tulang Bawang Barat baru saja merayakan hari jadinya. Sebuah momentum yang seharusnya tidak sekadar dirayakan dengan seremoni, tetapi juga direnungkan dengan kesadaran penuh: tentang perjalanan, capaian, dan tentu saja, tanggung jawab yang belum tuntas.
Namun, apa yang tampak di ruang Rapat Paripurna Istimewa DPRD Tubaba pada 6 April 2026 di aula kantor DPRD, justru menyisakan pertanyaan yang lebih nyaring daripada tepuk tangan.
Dari 35 anggota DPRD, hanya 18 yang hadir. Sisanya, 17 orang, memilih tidak tampak di kursi yang sejatinya mereka wakili atas nama rakyat.
Rapat yang dipimpin oleh Ketua DPRD, Busroni, tetap berjalan. Namun, sulit menutup mata bahwa sebagian kursi kosong seolah ikut “berbicara”—tentang sesuatu yang barangkali lebih dalam dari sekadar ketidakhadiran.
Pertanyaannya sederhana: jika dalam momentum yang disebut sakral seperti HUT daerah saja kehadiran menjadi pilihan, lalu di mana letak prioritas pengabdian itu sebenarnya?
Paripurna bukan sekadar agenda formal. Ia adalah simbol penghormatan terhadap sejarah daerah, terhadap para pendiri, dan terhadap masyarakat yang hari ini masih menaruh harapan pada lembaga legislatif.
Ironisnya, dalam ruang yang seharusnya penuh makna itu, justru yang terasa adalah ruang kosong—bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara simbolik.
Publik tentu tidak berlebihan jika mulai bertanya: apakah kehadiran dalam forum resmi kini sudah menjadi hal opsional? Ataukah komitmen memang sedang mengalami redefinisi—di mana tanggung jawab bisa dinegosiasikan, dan absensi menjadi hal yang lumrah?
Kita tidak sedang membicarakan hal besar. Tidak ada tuntutan yang muluk. Rakyat hanya ingin melihat wakilnya hadir—secara fisik dan moral—dalam momentum penting daerahnya sendiri.
Sebab, jika kursi lebih sering kosong dalam kewajiban, tetapi selalu penuh saat berbicara soal hak, maka yang hilang bukan sekadar kehadiran. Yang hilang adalah kepercayaan.
Tubaba tidak dibangun dalam sehari. Ia lahir dari proses panjang, dari kerja keras, dan dari harapan banyak orang. Maka merayakan hari jadinya semestinya bukan sekadar rutinitas tahunan, tetapi refleksi bersama—yang dihadiri dengan kesadaran, bukan sekadar diingat dalam agenda.
Jika tidak, maka kita patut khawatir: jangan-jangan yang absen bukan hanya anggota dewan, tetapi juga rasa memiliki itu sendiri.
- Penulis: Redaksi


