Breaking News
light_mode

AMPL0P SUBUH DAN JALAN BERLUBANG

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Senin, 11 Mei 2026
  • print Cetak

Cerpen Fiksi “Sebuah Satir Tentang Suara yang Dijual Murah dan Masa Depan yang Dibayar Mahal”

Oleh : Kang WeHa

Musim pemilu selalu punya aroma khas di Kampung Suka Janji.

Bukan aroma demokrasi.

Melainkan bau kopi sachet, rokok murah, dan amplop baru keluar dari ATM.

Seperti biasa, jalan-jalan rusak yang bertahun-tahun dibiarkan berlubang mendadak ditimbun batu asal-asalan. Gapura dicat ulang. Spanduk wajah tersenyum memenuhi sudut kampung seperti jamur habis hujan.

Di setiap baliho tertulis kata-kata besar:
“Melayani Dengan Hati.”
“Perubahan Untuk Rakyat.”
“Amanah dan Bersih.”

Padahal sebagian warga tahu, yang paling sibuk menjelang pemilu bukan hati.

Melainkan isi tas kresek.

Di warung kopi Mang Dul, obrolan politik menjadi menu utama.

“Kalau aku mah realistis,” kata Pak Darto sambil menyeruput kopi hitam. “Siapa yang ngasih, itu yang dipilih.”

“Lha kalau nanti korupsi?” tanya Rian, mahasiswa semester akhir yang baru pulang kuliah dari kota.

Pak Darto tertawa kecil.
“Yan… kamu masih muda. Idealismemu masih utuh. Nanti kalau umurmu sudah kayak bapak, kamu ngerti sendiri.”

Beberapa bapak lain ikut tertawa.

“Semua juga korup,” sambung seorang lainnya. “Bedanya ada yang bagi uang dulu, ada yang enggak.”

Rian terdiam.

Ia sadar, anak muda memang cenderung lebih idealis karena belum terlalu lama hidup berdamai dengan kekecewaan. Mereka masih percaya perubahan bisa dimulai dari prinsip.

Sementara sebagian orang dewasa, terutama yang terlalu sering melihat janji politik gagal, perlahan berubah realistis—atau mungkin menyerah.

Bagi mereka, pemilu bukan lagi soal harapan.

Melainkan kesempatan “balik modal” sebagai rakyat kecil.

Di tempat lain, ibu-ibu sedang berkumpul arisan sambil membahas calon pemimpin.

“Katanya tim nomor dua tadi bagi minyak dua liter,” bisik Bu Tini.

“Iya, aku dapat beras lima kilo,” jawab Bu Marni.

“Nomor tiga katanya besok kasih uang tunai.”

Mereka tertawa kecil.

Bukan karena mereka bodoh.

Justru ibu-ibu paling memahami kerasnya hidup: harga sembako naik, uang sekolah anak, gas melon langka, cicilan harian, dan dapur yang harus tetap mengepul.

Dalam kondisi seperti itu, uang lima puluh ribu terasa jauh lebih nyata daripada janji pembangunan lima tahun.

Politik akhirnya berubah menjadi hubungan transaksional:
calon memberi harapan sesaat,
rakyat memberi suara.

Sementara di rumah mewah pinggir kecamatan, para elit politik berkumpul sambil tertawa.

“Berapa kebutuhan suara di wilayah utara?” tanya seorang pengusaha.

“Kalau full serangan fajar, aman,” jawab tim sukses.

“Modal besar tidak masalah,” kata pria berbaju putih sambil menyalakan cerutu. “Nanti juga kembali lewat proyek.”

Mereka bicara angka.
Bicara strategi.
Bicara keuntungan.

Tak ada yang bicara sekolah rusak.
Tak ada yang bicara petani singkong.
Tak ada yang bicara masa depan anak-anak desa.

Karena bagi sebagian elit, rakyat hanyalah statistik yang bisa dibeli per kepala.


Malam sebelum pencoblosan datang seperti tradisi tahunan.

Motor keluar masuk gang sempit tanpa suara knalpot keras. Beberapa orang mengetuk pintu rumah pelan-pelan menjelang subuh.

“Titipan dari bapak,” bisik seseorang sambil menyelipkan amplop.

Ada yang menerima sambil tersenyum.
Ada yang pura-pura menolak lalu menyimpan diam-diam.
Ada juga yang berkata:
“Jangan lupa nanti pilih nomor dua ya.”

Rian melihat semua itu dari teras rumahnya.

Ibunya keluar pelan sambil membawa amplop cokelat.

“Kita dapat juga,” katanya lirih.

Rian menatap ibunya.
“Ibu ambil?”

Ibunya diam beberapa detik.

“Aku capek miskin, Yan.”

Kalimat itu terasa lebih jujur daripada seluruh pidato kampanye.

“Kadang orang kecil cuma dianggap penting waktu pemilu.”

Rian tak mampu menjawab.

Untuk pertama kalinya ia sadar, money politik tidak selalu lahir dari keserakahan rakyat.

Kadang ia tumbuh dari kelelahan hidup yang terlalu lama.


Hari pemilihan tiba.

TPS ramai seperti pesta desa. Orang-orang datang dengan baju terbaik sambil tersenyum penuh rahasia.

Sore harinya hasil mulai terlihat.

Calon yang paling banyak membagi uang menang telak.

Malam itu orkes dangdut dibunyikan sampai larut. Kembang api menyala. Konvoi motor memenuhi jalan kampung.

“Rakyat sudah menentukan pilihan!” teriak seseorang dari atas mobil pikap.

Namun enam bulan kemudian…

jalan kembali berlubang.
Pupuk menghilang.
Bantuan sosial tak jelas arahnya.
Gedung pasar mangkrak.
Dana proyek mulai jadi bisik-bisik korupsi.

Dan seperti biasa, rakyat mulai marah.

Di warung Mang Dul suara keluhan terdengar lebih keras dari bunyi sendok kopi.

“Pemimpin macam apa ini!”

“Janji doang!”

“Korup semua!”

Rian yang sejak tadi diam akhirnya berkata pelan:
“Dulu waktu dikasih uang, bapak-bapak bilang itu rezeki.”

Warung mendadak hening.

Pak Darto menunduk menatap gelas kopinya.

Tak ada yang sanggup membantah.


Tahun ketiga masa jabatan, kabar mengejutkan datang.

Sang pejabat ditangkap karena korupsi proyek jalan.

Lucunya, jalan yang dikorupsi adalah jalan yang dulu dipakai tim sukses membagi amplop subuh.

Warga berkumpul di balai desa menonton berita penangkapan lewat televisi kecil.

“Itu dia dulu yang paling sering bilang amanah,” gumam seseorang.

“Sekarang pakai rompi oranye,” sahut yang lain.

Seorang ibu tiba-tiba berkata lirih:
“Kalau pejabat sudah duduk dan menikmati uang haram… susah tobatnya kalau enggak dipenjara.”

Kalimat itu membuat ruangan mendadak sunyi.

Rian berdiri perlahan.

“Mungkin masalahnya bukan cuma mereka,” katanya tenang. “Tapi kita juga.”

Semua mata memandang ke arahnya.

“Selama rakyat masih mau menjual suara, akan selalu lahir pembeli kekuasaan.”

Tak ada tepuk tangan.
Tak ada debat.

Karena semua orang tahu:
kalimat itu benar.


Lima tahun berlalu.

Pemilu datang lagi.

Namun suasana kampung berbeda.

Tak ada lagi motor keluar masuk membawa amplop.
Tak ada lagi ketukan pintu menjelang subuh.

Karena warga mulai berubah.

Saat seorang tim sukses mencoba membagikan uang, Bu Marni justru berkata tegas:

“Bawa pulang uangnya. Kami mau jalan bagus, bukan bantuan musiman.”

Pak Darto yang dulu paling keras berkata “ambil uangnya” kini berdiri di depan TPS membantu menjaga kotak suara.

Kepada anak-anak muda ia berkata pelan:
“Jangan ulangi kebodohan kami.”

Dan pagi itu…

anak-anak sekolah berangkat tanpa harus menghindari lubang jalan.

Petani bisa membawa hasil panen tanpa takut motor jatuh.
Ambulans desa akhirnya bisa lewat tanpa terguncang.

Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, pembangunan tidak berhenti di baliho kampanye.

Warga akhirnya mengerti:
money politik bukan bantuan,
melainkan uang muka penderitaan.

Dan mereka sadar…

pembangunan mulai berjalan,
ketika amplop berhenti berjalan.

  • Penulis: Redaksi

Rekomendasi Untuk Anda

  • DPP PSI Panggil DPD Tubaba, Kaesang Pangarep Beri Pesan Khusus: Bentuk Struktur Hingga TPS Demi Kemenangan 2029

    DPP PSI Panggil DPD Tubaba, Kaesang Pangarep Beri Pesan Khusus: Bentuk Struktur Hingga TPS Demi Kemenangan 2029

    • calendar_month Rabu, 5 Agt 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA, WARTA EDUKASI — Ketua DPD PSI Kabupaten Tulang Bawang Barat, Eko Sunarko, beserta Sekretaris DPD, Enjang Kusyono, memenuhi undangan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Solidaritas Indonesia di Jalan KH. Wahid Hasyim No. 194, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Kedatangan mereka didampingi Sekretaris Wilayah DPW PSI Lampung, Beni Batara, guna menerima pesan khusus sekaligus penyerahan […]

  • Sepulang dari Tiongkok, JMSI Lampung Ajak Tubaba Bangun Wisata Budaya Berkelas Dunia

    Sepulang dari Tiongkok, JMSI Lampung Ajak Tubaba Bangun Wisata Budaya Berkelas Dunia

    • calendar_month Rabu, 22 Jul 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    TULANG BAWANG BARAT, WARTA EDUKASI – Pengurus Daerah Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Lampung mendorong Pemerintah Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba) untuk mengembangkan sektor wisata budaya sebagai salah satu penggerak ekonomi daerah. Gagasan tersebut disampaikan dalam audiensi bersama Pemerintah Kabupaten Tubaba, Selasa (21/7/2026), sebagai tindak lanjut hasil kunjungan kerja JMSI Lampung ke Provinsi Yunnan, Tiongkok. […]

  • Kepalo Tiyuh Mulya Sari Ajak Warga Jalankan Ibadah Puasa dengan Sepenuh Hati

    Kepalo Tiyuh Mulya Sari Ajak Warga Jalankan Ibadah Puasa dengan Sepenuh Hati

    • calendar_month Minggu, 8 Mar 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Tulang Bawang Barat, wartaedukasi.com – Memasuki bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah, Kepalo Tiyuh Mulya Sari, Kecamatan Gunung Agung, Kabupaten Tulang Bawang Barat, Muhammad Jainuri, mengajak seluruh masyarakat untuk menjalankan ibadah puasa dengan sepenuh hati sebagai bentuk rasa syukur atas berbagai nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT. Ajakan tersebut disampaikan melalui pesan resmi Pemerintah Tiyuh […]

  • SMA Negeri 1 Gunung Agung Buka SPMB 2026, Siap Cetak Generasi Cerdas dan Berkarakter

    SMA Negeri 1 Gunung Agung Buka SPMB 2026, Siap Cetak Generasi Cerdas dan Berkarakter

    • calendar_month Sabtu, 9 Mei 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Tulang Bawang Barat, wartaedukasi.com – SMA Negeri 1 Gunung Agung resmi membuka Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026/2027. Sekolah ini kembali mengajak lulusan SMP/MTs sederajat untuk melanjutkan pendidikan di lingkungan sekolah yang mengedepankan prestasi, karakter, dan nilai religius. Kepala SMA Negeri 1 Gunung Agung, Sodik Adi Suryanto, mengatakan bahwa sekolahnya berkomitmen mencetak generasi […]

  • Demi Masa Depan Anak dan Kebutuhan Hidup, Buruh PT Samudera Datangi DPRD Lampung Selatan

    Demi Masa Depan Anak dan Kebutuhan Hidup, Buruh PT Samudera Datangi DPRD Lampung Selatan

    • calendar_month Kamis, 14 Mei 2026
    • account_circle haris
    • 0Komentar

    Lampung Selatan, wartaedukasi.com — Buruh PT Samudera menjadi sorotan setelah ratusan tenaga kerja mendatangi kediaman anggota DPRD Kabupaten Lampung Selatan dan Kepala Desa Sukanegara guna menyampaikan surat aspirasi terkait nasib mereka yang telah lebih dari satu bulan dirumahkan oleh perusahaan tempat mereka bekerja, Rabu (13/5/2026). Suasana haru tampak menyelimuti pertemuan tersebut. Sekitar 100 pekerja PT […]

  • Bedah Rumah Mbah Surip, Saat Kepedulian Menjadi Rumah Baru Harapan

    Bedah Rumah Mbah Surip, Saat Kepedulian Menjadi Rumah Baru Harapan

    • calendar_month Jumat, 26 Jun 2026
    • account_circle arif
    • 0Komentar

    Lampung Selatan, Warta Edukasi.com — Sudah bertahun-tahun Mbah Surip menjalani hidup di rumah sederhana yang kondisinya jauh dari kata layak. Dinding yang mulai rapuh dan bangunan yang menua menjadi saksi perjalanan hidupnya. Namun, Kamis (25/6/2026), semuanya berubah. Di Dusun V Jati Sari, Desa Jatimulyo, Kecamatan Jati Agung, sebuah rumah baru berdiri kokoh. Rumah itu bukan […]

expand_less