Breaking News
light_mode

SECANGKIR KOPI TANPA GULA

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Senin, 25 Mei 2026
  • print Cetak

SECANGKIR KOPI TANPA GULA
Di sudut utara Kabupaten Tulang Bawang Barat, tepatnya di Kecamatan Tumijajar, Kelurahan Dayamurni, hamparan sawah membentang luas hingga menepi ke kabut pagi. Udara dingin masih menggantung di sela pohon singkong dan batang padi yang mulai menguning. Suara jangkrik yang belum benar-benar tidur bercampur dengan cicak di dinding rumah kayu tua, menciptakan irama pagi yang sederhana namun akrab.

Di pinggir jalan tanah yang mulai retak dimakan musim, berdirilah sebuah gerai kecil bertuliskan:

“Omah Kopi Tanpa Gula”

Tulisan itu sudah mulai pudar. Catnya mengelupas dimakan panas dan hujan. Namun setiap pagi, gerai itu tetap buka seperti biasa.

Pak Punky Purbowo berdiri di depan tungku kecilnya. Tangannya yang mulai keriput membuka kaleng berisi bubuk kopi hitam yang baru digiling semalam. Dengan hati-hati ia menuangkan sesendok kopi ke dalam cangkir tanah liat tua yang warnanya mulai kusam.
Air panas mendidih dituangkan perlahan.

“Ssssttt…”

Uap tipis naik membawa aroma kopi yang pekat dan jujur.

Tidak ada gula.

Tak pernah ada gula.

Seperti hidup yang terlalu lama dipaksa manis oleh pidato, baliho, dan janji pembangunan.

Pak Punky menarik napas panjang.
“Kopi tanpa gula… pahit, tapi setidaknya masih asli,” gumamnya pelan.

Dari arah sawah, seorang laki-laki paruh baya berjalan perlahan sambil menggulung celana panjangnya yang masih basah oleh embun. Namanya Pak Thomas. Wajahnya lelah seperti tanah yang terlalu sering dijanjikan panen besar tapi tak pernah benar-benar makmur.

“Pak Punky… satu cangkir,” ucapnya lirih.

Pak Punky mengangguk tanpa banyak bicara. Di tempat itu, orang-orang memang lebih sering menyimpan keluh dalam diam daripada mengubahnya jadi keributan.

Pak Thomas duduk di bangku semen yang mulai retak. Matanya menatap jalan kampung yang berlubang di sana-sini. Jalan itu sudah berkali-kali difoto, diukur, dijanjikan perbaikan, bahkan sempat dipasang papan proyek. Tapi seperti banyak hal lain di Tubaba, kadang yang lebih cepat datang hanyalah spanduk ucapan selamat.
Ia menyeruput kopi perlahan.

Pahit.

Tapi hangat.

“Rasanya seperti hidup kita ya, Pak…” kata Pak Thomas sambil tersenyum tipis.
Pak Punky tertawa kecil.

“Bedanya kopi ini jujur. Dari awal memang pahit. Tidak pura-pura manis.”
Angin pagi bertiup pelan melewati sawah.

Di kejauhan terlihat gedung-gedung baru berdiri megah, sementara beberapa rumah warga masih beratap seng bocor. Ada taman-taman yang cantik untuk difoto, tapi di sudut lain banyak anak muda memilih pergi merantau karena merasa kampungnya tak lagi memberi harapan selain cerita.

Pak Thomas menunduk.
“Kadang aku bingung, Pak. Tubaba makin ramai dibicarakan orang luar. Tapi kenapa banyak orang dalamnya justru makin diam?”

Pak Punky mengaduk kopinya perlahan walau tak ada gula yang harus larut.
“Karena yang kenyang bicara biasanya yang dekat meja kekuasaan,” jawabnya tenang. “Sedangkan yang tiap hari menanam singkong, ngarit rumput, atau jual kopi seperti kita… cuma belajar bertahan.”

Suasana kembali hening.

Burung-burung kecil mulai keluar dari sarangnya. Matahari naik perlahan menyibak kabut. Cahaya pagi menyentuh sawah yang hijau, seolah alam tetap berusaha memberi harapan meski manusia sering sibuk menyembunyikan kenyataan.

Di depan gerai kecil itu, papan bertuliskan Omah Kopi Tanpa Gula bergoyang pelan diterpa angin.

Pak Thomas kembali menyeruput kopinya hingga habis. Wajahnya masih menyeringai karena pahit yang tertinggal di lidah.

Namun anehnya, ia menikmati rasa itu.

Sebab hidup yang terlalu manis kadang hanya membuat orang lupa bagaimana kenyataan sebenarnya.

Dan di Tubaba pagi itu, secangkir kopi tanpa gula menjadi saksi bahwa rakyat kecil masih belajar menerima pahit—bukan karena mereka lemah, tetapi karena terlalu sering berharap manis yang tak pernah benar-benar datang.

  • Penulis: Redaksi

Rekomendasi Untuk Anda

  • NEGERI YANG MENJUAL MALU

    NEGERI YANG MENJUAL MALU

    • calendar_month Minggu, 22 Feb 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    NEGERI YANG MENJUAL MALU Penulis : Kang WeHa Di negeri ini,korupsi disebut kekhilafan,kemiskinan disebut kurang bersyukur,dan kritik disebut ancaman ketertiban. Kami diajari mencintai tanah air,tapi tanah kami dijual meteran.Hutan dibabat atas nama investasi,lalu banjir disebut takdir Tuhanyang “tidak bisa diprediksi.” Di podium megah berpendingin ruangan,mereka bicara tentang rakyat kecil—seolah-olah kami ini dongengyang enak diceritakantanpa perlu […]

  • Demi Masa Depan Anak dan Kebutuhan Hidup, Buruh PT Samudera Datangi DPRD Lampung Selatan

    Demi Masa Depan Anak dan Kebutuhan Hidup, Buruh PT Samudera Datangi DPRD Lampung Selatan

    • calendar_month Kamis, 14 Mei 2026
    • account_circle haris
    • 0Komentar

    Lampung Selatan, wartaedukasi.com — Buruh PT Samudera menjadi sorotan setelah ratusan tenaga kerja mendatangi kediaman anggota DPRD Kabupaten Lampung Selatan dan Kepala Desa Sukanegara guna menyampaikan surat aspirasi terkait nasib mereka yang telah lebih dari satu bulan dirumahkan oleh perusahaan tempat mereka bekerja, Rabu (13/5/2026). Suasana haru tampak menyelimuti pertemuan tersebut. Sekitar 100 pekerja PT […]

  • PARTAI RAKYAT INDONESIA

    Partai Rakyat Indonesia (PRI): Partai Nasional Religius Pendukung Indonesia Emas 2045

    • calendar_month Selasa, 2 Jun 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Oleh: Redaksi Warta Edukasi JAKARTA – Kancah politik nasional kembali diramaikan dengan hadirnya Partai Rakyat Indonesia (PRI), sebuah partai politik nasional religius yang dideklarasikan oleh politisi senior Muhammad Nazaruddin pada 8 Agustus 2025 di Jakarta. Partai Rakyat Indonesia lahir dengan semangat kebangsaan yang berlandaskan Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka […]

  • PBAK STES Tunas Palapa Bentuk Mahasiswa Berintegritas

    PBAK STES Tunas Palapa Bentuk Mahasiswa Berintegritas

    • calendar_month Minggu, 6 Sep 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    PBAK STES Tunas Palapa Sambut 41 Mahasiswa Baru TULANG BAWANG BARAT, WARTA EDUKASIB– PBAK STES Tunas Palapa Tahun Akademik 2026/2027 menjadi langkah awal dalam membentuk mahasiswa yang santun, cerdas, berintegritas, serta memiliki kemampuan literasi digital. Sekolah Tinggi Ekonomi Syariah (STES) Tunas Palapa menggelar Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) pada 5–6 September 2026 di Aula […]

  • Bendera Merah Putih: Koramil 421-09/Tanjung Bintang Ajak Warga Kibarkan Bendera, Kobarkan Semangat HUT ke-81 RI

    Bendera Merah Putih: Koramil 421-09/Tanjung Bintang Ajak Warga Kibarkan Bendera, Kobarkan Semangat HUT ke-81 RI

    • calendar_month Jumat, 7 Agt 2026
    • account_circle Haris Efendi
    • 0Komentar

    Lampung Selatan, Wartaedukasi.com – Bendera Merah Putih kembali menjadi simbol utama dalam menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Koramil 421-09/Tanjung Bintang mengajak seluruh masyarakat untuk mengibarkan Bendera Merah Putih selama bulan Agustus sebagai bentuk penghormatan kepada jasa para pahlawan sekaligus memperkuat semangat nasionalisme di tengah kehidupan bermasyarakat. Ajakan tersebut disampaikan melalui Babinsa […]

  • Sat Reskrim Polres Tubaba Bagikan 100 Paket Takjil untuk Pengguna Jalan di Panaragan Jaya

    Sat Reskrim Polres Tubaba Bagikan 100 Paket Takjil untuk Pengguna Jalan di Panaragan Jaya

    • calendar_month Sabtu, 7 Mar 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Tulang Bawang Barat, wartaedukasi.com – Dalam semangat berbagi dan mempererat tali silaturahmi di bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, Satuan Reserse Kriminal (Sat Reskrim) Polres Tulang Bawang Barat, Polda Lampung membagikan ratusan paket takjil kepada para pengguna jalan. Kegiatan tersebut berlangsung di Simpang Uluan Nughik, Kelurahan Panaragan Jaya, Kecamatan Tulang Bawang Tengah, Kabupaten Tulang Bawang Barat, […]

expand_less