Breaking News
light_mode

Takhtiman Yanbu’ul Ulum, Abi Syukron: Khatam Bukan Akhir Belajar

  • account_circle ARIF
  • calendar_month 0 menit yang lalu
  • print Cetak

Takhtiman Yanbu’ul Ulum Jadi Momentum Santri Memulai Perjalanan Ilmu

Lampung Selatan, Warta Edukasi.Com Lantunan ayat suci Al-Qur’an menggema memenuhi aula Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Diniyyah Putra-Putri Yanbu’ul Ulum, Sabtu malam Ahad (27/6/2026).

Di hadapan para wali santri, ulama, dan tamu undangan, puluhan santri menundukkan kepala dengan penuh khidmat.

Malam itu bukan sekadar seremoni kelulusan, melainkan penanda dimulainya perjalanan panjang dalam menuntut ilmu.

Sebanyak 20 santri menuntaskan Takhtiman Juz Amma, sementara enam santri berhasil menyelesaikan Khataman Kitab Alfiyyah Ibnu Malik.

Prosesi diawali pembacaan Kalam Ilahi, dilanjutkan takhtaman yang berlangsung penuh kekhusyukan di Pondok Pesantren Yanbu’ul Ulum, Jalan Raden Santri, Gang Pondok, Dusun 38, Desa Karang Anyar, Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan.

Pengajian Akbar yang menjadi puncak acara menghadirkan KH. Dimyati Rifa’i, Rois Syuriah PCNU Tulang Bawang, sebagai penceramah.

Turut hadir Mustasyar MWCNU Jati Agung Abah Yai Nurcholis Ahmad, Wakil Rois Syuriah Gus Abdul Roziq, Sekretaris MWCNU Ustadz Nurrohman, Ketua JKSN Gus Budi, Ketua UPZISNU Ustadz Sukri, KH. S. Abdul Aziz Attarmasie, Ketua PAC GP Ansor Jati Agung Waryanto bersama Banser, serta para wali santri.

Bagi Pendiri sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Yanbu’ul Ulum, Abi A. Syukron Malik, S.H.I., Al-Hafidz, momen takhtiman bukanlah garis akhir.

Justru, malam itu menjadi langkah pertama bagi para santri untuk memasuki jenjang ilmu yang lebih luas.

  • Khataman Menjadi Awal Ilmu yang Bermanfaat

Abi Syukron berharap para santri tidak berhenti pada kebanggaan telah menyelesaikan bacaan ataupun hafalan.

Menurutnya, keberhasilan itu baru akan bernilai ketika melahirkan ilmu yang membawa manfaat bagi kehidupan.

“Anak-anak yang sudah menyelesaikan khataman Al-Qur’an maupun Juz Amma, tentu harapannya agar ilmu yang mereka peroleh dari takhtiman atau khataman Al-Qur’an ini menjadi ilmu yang bermanfaat dan penuh berkah,” ujarnya.

Namun, ia mengingatkan bahwa kemampuan membaca dan menghafal Al-Qur’an belum cukup untuk memahami pesan-pesan Allah secara utuh.

Foto Dok Ahmad Royani: Pengasuh Pondok Pesantren Yanbu’ul Ulum, Abi A. Syukron Malik, S.H.I., Al-Hafidz,

Dibutuhkan ilmu alat sebagai kunci untuk membuka makna yang terkandung di dalamnya.

“Karena Al-Qur’an itu berbahasa Arab dan dalam memahami Al-Qur’an, baik secara gramer maupun secara makna maupun secara tafsir, itu membutuhkan alatnya. Nah, alatnya itulah nahwunya,” jelas Abi Syukron.

  • Alfiyyah Menjadi Jalan Memahami Makna Al-Qur’an

Atas dasar itulah, Pondok Pesantren Yanbu’ul Ulum menjadikan Kitab Alfiyyah Ibnu Malik sebagai salah satu pilar pendidikan santri.

Kitab yang memuat kaidah nahwu tersebut dipelajari agar para santri tidak hanya mampu membaca Al-Qur’an, tetapi juga memahami kandungannya secara benar.

“Dengan mempelajari Kitab Alfiyyah Ibnu Malik maka diharapkan santri itu selain bisa membaca Al-Qur’an ataupun menghafalkan Al-Qur’an, tetapi juga mengetahui makna Al-Qur’an itu sendiri, sehingga tidak salah di dalam menafsirkannya dan mengimplementasikannya. Karena kesalahpahaman di dalam memahami Al-Qur’an, maka Alfiyah atau ilmu alat sangat dibutuhkan dalam memahami Al-Qur’an itu sendiri,” katanya.

Perjalanan menguasai ilmu tersebut bukan sesuatu yang singkat. Menurut Abi Syukron, santri umumnya membutuhkan waktu enam hingga tujuh tahun untuk menamatkan pembelajaran Alfiyyah.

“Kalau khusus di Pondok Pesantren Yanbu’ul Ulum tentunya untuk menyelesaikan Alfiyah Ibnu Malik itu membutuhkan waktu sekitar enam tahun atau bisa sampai tujuh tahun,” ungkapnya.

Sementara untuk hafalan Al-Qur’an, lama waktu setiap santri berbeda-beda sesuai kemampuan dan kesungguhannya.

“Untuk Al-Qur’annya sendiri sebenarnya secara umum bisa dihafalkan selama tiga tahun bagi anak-anak santri yang betul-betul menghafal, tapi biasanya ada yang memang sampai lima atau enam tahun,” lanjutnya.

  • Khatam Bukan Garis Akhir

Di balik prosesi wisuda sederhana itu, Abi Syukron menyampaikan pesan yang menjadi inti dari seluruh rangkaian acara.

Ia meminta para santri tidak menganggap khataman sebagai tujuan akhir.

“Tentunya pesan Abi adalah santri-santri yang sudah dikhatamkan, pertama tidak berhenti di sini. Artinya, karena ini baru khatam, jadi santri baru menghatamkan apa yang dipelajarinya,” pesannya.

Masih ada tahapan berikutnya yang harus ditempuh. Menghatamkan bacaan bukan berarti telah menguasai seluruh isi dan hikmah Al-Qur’an maupun kedalaman ilmu Alfiyyah.

“Masih ada jenjang berikutnya yaitu menghatamkan Al-Qur’an, masih ada jenjang berikutnya yaitu mendalami Al-Qur’an. Nah kemudian untuk Alfiyyah pun seperti itu. Ini baru khatam Alfiyyah, belum sepenuhnya memahami ilmu Alfiyyah,” ujarnya.

Karena itu, ia berharap seluruh santri terus menjaga semangat belajar sepanjang hayat.

“Maka pesan Abi pada santri-santri yang menghatamkan tentunya tidak berhenti di sini, selalu belajar, belajar dan mengamalkan ilmu yang telah didapatkan,” tegasnya.

  • Menyiapkan Generasi yang Siap Menjawab Tantangan Zaman

Bagi Abi Syukron, pesantren memiliki tanggung jawab yang jauh lebih besar daripada sekadar melahirkan para penghafal Al-Qur’an.

Pesantren harus mampu mencetak generasi yang menguasai ilmu agama sekaligus siap menghadapi perubahan zaman.

“Tentunya visi daripada Pondok Pesantren Yanbu’ul Ulum atau umumnya pondok pesantren Nahdlatul Ulama, cita-citanya adalah mencetak generasi yang betul-betul mumpuni dalam bidang ilmu agama, baik Al-Qur’an maupun ilmu kitab, sehingga bisa menjawab tantangan zaman,” tuturnya.

Menurutnya, kemajuan zaman tidak boleh mengikis nilai-nilai agama maupun norma kehidupan bermasyarakat.

Justru santri diharapkan hadir sebagai generasi yang mampu menjawab tantangan tanpa kehilangan jati diri.

“Walaupun zaman itu berkembang, tentunya santri-santri bisa menjawab tantangan tersebut sehingga tidak keluar dari koridor tatanan agama maupun norma sosial di Negara Indonesia untuk menyongsong Generasi Emas,” pungkasnya. (ARIF). 

  • Penulis: ARIF

Rekomendasi Untuk Anda

  • Jalan Berlubang di Panaragan Jaya Telan Korban Jiwa, Paman Acong Soroti Kinerja Pemerintah Daerah

    Jalan Berlubang di Panaragan Jaya Telan Korban Jiwa, Paman Acong Soroti Kinerja Pemerintah Daerah

    • calendar_month Kamis, 28 Mei 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Tulang Bawang Barat, Warta Edukasi – Kondisi jalan rusak dan berlubang di wilayah Panaragan Jaya, Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba), kembali menuai sorotan setelah menyebabkan kecelakaan maut yang merenggut nyawa seorang pengendara sepeda motor. Peristiwa tersebut memicu keprihatinan masyarakat, termasuk dari Herwanto atau yang lebih dikenal dengan nama Paman Acong. Selain dikenal sebagai konten kreator, […]

  • Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Lampung Bani Ispriyanto menjelaskan program Kampung Nelayan Merah Putih untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan dan masyarakat pesisir.

    KNMP Jadi Prioritas, Pemprov Lampung Targetkan 34 Titik Pembangunan

    • calendar_month Jumat, 12 Jun 2026
    • account_circle Ahmad Royani, S.H.I
    • 0Komentar

    Bandar Lampung, Warta Edukasi – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung menjadikan Program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) sebagai salah satu prioritas pembangunan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir sekaligus memperkuat sektor perikanan daerah. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Lampung, Bani Ispriyanto, mengatakan bahwa KNMP merupakan bagian dari program strategis nasional yang bertujuan mendukung pengembangan perikanan […]

  • Detik-detik Brigadir Arya Tewas Ditembak Saat Tegur Terduga Curanmor di Lampung

    Detik-detik Brigadir Arya Tewas Ditembak Saat Tegur Terduga Curanmor di Lampung

    • calendar_month Sabtu, 9 Mei 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Lampung, Warta Edukasi — Peristiwa tragis menimpa seorang anggota kepolisian di Lampung. Brigadir Arya dilaporkan tewas setelah terkena tembakan saat melakukan teguran terhadap terduga pelaku pencurian kendaraan bermotor (curanmor). Berdasarkan informasi awal yang dihimpun, insiden tersebut bermula ketika Brigadir Arya yang bertugas sebagai anggota intelijen mencurigai gerak-gerik sejumlah orang yang diduga terlibat dalam aksi curanmor. […]

  • Sekolah Desa FORMADES: Menghidupkan Kesadaran Kolektif dan Daya Tawar Desa

    Sekolah Desa FORMADES: Menghidupkan Kesadaran Kolektif dan Daya Tawar Desa

    • calendar_month Sabtu, 21 Feb 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Forum Membangun Desa (FORMADES), WartaEdukasi.com — Desa sejatinya memiliki pengetahuan yang hidup dan tumbuh dari pengalaman warganya. Pengetahuan tentang musim, tata air, produksi pangan, relasi sosial, hingga strategi bertahan di tengah tekanan ekonomi telah lama menjadi bagian dari keseharian masyarakat desa. Namun, yang kerap absen adalah ruang untuk menata pengetahuan tersebut menjadi kesadaran kolektif. Tanpa […]

  • Kebersamaan Terjalin Hangat, Nobar Bola Gembira TNI dan Warga di Tanjung Bintang

    Kebersamaan Terjalin Hangat, Nobar Bola Gembira TNI dan Warga di Tanjung Bintang

    • calendar_month Sabtu, 20 Jun 2026
    • account_circle Haris Efendi
    • 0Komentar

    Tanjung Bintang, Lampung Selatan, wartaedukasi.com  — Nobar Bola Gembira Bangun Kedekatan TNI dan Masyarakat Nobar Bola Gembira yang digelar oleh TNI melalui Koramil 421-09/Tanjung Bintang menghadirkan suasana hangat antara aparat dan warga di Aula Koramil, Tanjung Bintang, Lampung Selatan. Kegiatan ini tidak hanya menyajikan tontonan sepak bola, tetapi juga memperkuat ruang interaksi sosial yang mempererat […]

  • Ketika Fatayat Kehilangan Cahaya: Rere Abyasa Mengenang Jejak Inspiratif Margaret

    Ketika Fatayat Kehilangan Cahaya: Rere Abyasa Mengenang Jejak Inspiratif Margaret

    • calendar_month Minggu, 1 Mar 2026
    • account_circle arif
    • 0Komentar

    Jakarta, WARTA EDUKASI.COM – Pagi itu terasa berbeda bagi kader Fatayat NU di berbagai daerah. Kabar wafatnya Ketua Umum Pengurus Pusat Fatayat NU, Hj. Margaret Aliyatul Maimunah, pada Minggu (1/3/2026), menyebar cepat dan menyisakan hening yang panjang. Bagi sebagian orang, kabar itu adalah berita duka organisasi. Namun bagi Rere Abyasa, Host Podcast Nongkrong Online NU […]

expand_less