Sekolah Desa FORMADES: Menghidupkan Kesadaran Kolektif dan Daya Tawar Desa
- account_circle Redaksi
- calendar_month Sabtu, 21 Feb 2026
- print Cetak

Oplus_131072
Forum Membangun Desa (FORMADES), WartaEdukasi.com — Desa sejatinya memiliki pengetahuan yang hidup dan tumbuh dari pengalaman warganya. Pengetahuan tentang musim, tata air, produksi pangan, relasi sosial, hingga strategi bertahan di tengah tekanan ekonomi telah lama menjadi bagian dari keseharian masyarakat desa.
Namun, yang kerap absen adalah ruang untuk menata pengetahuan tersebut menjadi kesadaran kolektif. Tanpa ruang temu gagasan, desa berjalan sendiri-sendiri, terfragmentasi dalam urusan administratif dan proyek pembangunan yang datang silih berganti.
Di titik inilah Sekolah Desa yang digagas Forum Membangun Desa (FORMADES) menemukan relevansinya.
Sekolah Desa bukan sekadar program pelatihan. Ia merupakan ikhtiar membangun kesadaran bersama. Bukan ruang transfer materi formal, melainkan ruang membaca realitas sosial dan kebijakan. FORMADES mendorong proses belajar yang memungkinkan warga memahami arah kebijakan, memetakan persoalan, serta menyusun posisi desa secara lebih bermartabat.
Desa dan Tantangan Ketergantungan
Kondisi desa hari ini menunjukkan kebutuhan mendesak akan ruang belajar kolektif. Tidak sedikit desa yang mengalami ketergantungan tinggi terhadap pihak luar, baik dalam hal data, perencanaan, maupun arah pembangunan.
Program datang dan pergi, tetapi tidak selalu lahir dari pembacaan mendalam warga sendiri. Musyawarah kerap menjadi formalitas administratif, bukan forum dialektika gagasan. Akibatnya, desa lebih sering menjadi objek keputusan ketimbang subjek penentu arah pembangunan.
Yang sesungguhnya mengalami krisis bukan hanya anggaran atau infrastruktur, melainkan daya refleksi dan daya tawar desa itu sendiri. Ketika ruang berpikir bersama melemah, desa kehilangan kemampuan membaca kepentingannya secara mandiri.
Tiga Lapis Kesadaran Sekolah Desa
Jika dicermati, arah Sekolah Desa FORMADES bergerak pada tiga lapis kesadaran.
Pertama, kesadaran kebijakan.
Desa tidak bisa dilepaskan dari regulasi, mulai dari dana desa, tata ruang, pertanian, lingkungan, hingga tata kelola pemerintahan. Tanpa literasi kebijakan, desa mudah terseret dalam arus keputusan dari atas. Sekolah Desa menjadi ruang agar warga tidak sekadar menerima kebijakan, tetapi mampu memahami, menguji, dan mengkritisinya secara argumentatif.
Kedua, kesadaran sosial-ekonomi.
Tingginya biaya produksi pertanian, berkurangnya lahan sawah, hingga menjauhnya generasi muda dari sektor pertanian bukan persoalan individual. Hal tersebut memerlukan pembacaan struktural bersama, termasuk soal rantai distribusi, akses permodalan, pasar, serta orientasi pembangunan. Sekolah Desa mendorong diskusi yang melampaui keluhan personal dan mengarah pada solusi kolektif.
Ketiga, kesadaran kolektif.
Kekuatan desa tidak semata diukur dari banyaknya proyek, tetapi dari keterhubungan warganya dalam gagasan dan tindakan. Tradisi musyawarah perlu dihidupkan kembali sebagai ruang belajar, bukan sekadar forum pengesahan anggaran. Musyawarah menjadi arena merumuskan visi dan arah bersama.
Dari Webinar ke Gerakan Nyata
Dalam konteks tersebut, Webinar Sekolah Desa menjadi pintu masuk membangun ekosistem belajar di desa. Pendidikan desa tidak terbatas pada sekolah formal, tetapi mencakup proses membentuk warga yang sadar dan mampu menentukan masa depannya.
Namun, gagasan besar tidak boleh berhenti pada diskusi. Pasca-webinar, diperlukan pembentukan komunitas belajar desa yang rutin membedah isu-isu konkret. Modul kontekstual dan aplikatif perlu disusun, seperti membaca APBDes, memahami kebijakan agraria, hingga memetakan potensi ekonomi lokal.
Setiap proses belajar semestinya disertai praktik terukur agar diskusi tidak berhenti sebagai wacana. Kaderisasi fasilitator lokal menjadi kunci agar Sekolah Desa tumbuh sebagai gerakan mandiri dan berkelanjutan.
Selain itu, hasil pembacaan warga perlu terhubung dengan ruang advokasi yang lebih luas, sehingga suara desa tidak berhenti di ruang pertemuan, tetapi turut memengaruhi kebijakan publik.
Mengembalikan Desa sebagai Pusat Pengetahuan
Membaca arah Sekolah Desa FORMADES berarti membaca upaya mengembalikan desa sebagai pusat pengetahuan. Desa bukan objek pembangunan, melainkan produsen gagasan. Bukan sekadar penerima program, tetapi perumus masa depan.
Pada akhirnya, Sekolah Desa adalah tentang keberanian membaca realitas sendiri dan menyusunnya menjadi gerakan bersama. Tanpa ruang belajar kolektif, desa hanya menjadi pelaksana kebijakan. Dengan Sekolah Desa, desa berpeluang menjadi penentu arah pembangunan.(Red)
- Penulis: Redaksi

