Breaking News
light_mode

Dedak, Menir, dan Sekam: Nilai Rp253 Miliar yang Jarang Dibahas

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Kamis, 18 Jun 2026
  • print Cetak

Oleh: Juliansyah Lubis Ketua DPW JPKP Provinsi Lampung

Keberhasilan Serapan Gabah yang Patut Diapresiasi

Bandar Lampung, Warta Edukasi.Com Perum Bulog berhasil meningkatkan serapan gabah petani dalam dua tahun terakhir.

Capaian tersebut layak mendapat apresiasi karena memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus menjaga stabilitas harga di tingkat petani.

Data menunjukkan Bulog Lampung menyerap sekitar 202.564 ton gabah sepanjang tahun 2025. Hingga awal Juni 2026, angka serapan kembali meningkat dan telah mencapai sekitar 400.000 ton.

Pencapaian ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam membangun Cadangan Beras Pemerintah (CBP) dan memastikan hasil panen petani terserap pasar dengan harga yang lebih baik.

Di balik angka serapan yang besar tersebut, terdapat satu aspek yang jarang mendapat perhatian publik, yaitu hasil samping penggilingan berupa dedak, menir, dan sekam.

Publik mengetahui jumlah gabah yang masuk ke sistem pengadaan Bulog. Publik juga mengetahui jumlah beras yang tersimpan di gudang.

Namun, informasi mengenai volume dan pengelolaan dedak, menir, serta sekam masih sangat jarang muncul dalam ruang diskusi publik.

  • Dedak dan Menir Memiliki Nilai Ekonomi

Setiap proses penggilingan gabah menghasilkan lebih dari sekadar beras. Industri penggilingan juga menghasilkan dedak, menir, dan sekam yang memiliki nilai ekonomi cukup besar.

Dengan menggunakan asumsi konservatif yang lazim digunakan dalam industri penggilingan padi, setiap 100 kilogram gabah menghasilkan sekitar 8 persen dedak, 3 persen menir, dan 20 persen sekam.

Berdasarkan serapan gabah Bulog Lampung tahun 2025 sebesar 202.564 ton, secara teoritis dapat dihasilkan:

  • Dedak sekitar 16.205 ton;
  • Menir sekitar 6.077 ton;
  • Sekam sekitar 40.513 ton

Sementara dari serapan gabah hingga awal Juni 2026 sebesar 400.000 ton, secara teoritis dapat diperoleh:

  • Dedak sekitar 32.000 ton;
  • Menir sekitar 12.000 ton;
  • Sekam sekitar 80.000 ton.

Volume tersebut menunjukkan bahwa hasil samping penggilingan bukanlah komponen kecil dalam rantai usaha perberasan.

  • Potensi Nilai Ekonomi Mencapai Rp253 Miliar

Apabila menggunakan harga pasar konservatif, yaitu dedak Rp2.500 per kilogram, menir Rp4.000 per kilogram, dan sekam Rp500 per kilogram, maka estimasi nilai ekonominya dapat dihitung sebagai berikut.

Tahun 2025

  • Dedak sekitar Rp40,5 miliar;
  • Menir sekitar Rp24,3 miliar;
  • Sekam sekitar Rp20,2 miliar.

Total potensi nilai ekonomi mencapai sekitar Rp 85 miliar.

Tahun 2026 hingga Awal Juni

  • Dedak sekitar Rp80 miliar;
  • Menir sekitar Rp48 miliar;
  • Sekam sekitar Rp40 miliar.

Total potensi nilai ekonomi mencapai sekitar Rp168 miliar.

Dengan perhitungan tersebut, nilai ekonomi dedak, menir, dan sekam yang muncul dari gabah yang Bulog Lampung serap sejak tahun 2025 hingga pertengahan 2026 diperkirakan mencapai sekitar Rp 253 miliar.

Perlu ditegaskan bahwa angka tersebut bukan kerugian negara dan bukan pula indikasi adanya penyimpangan.

Perhitungan ini hanya menggambarkan potensi nilai ekonomi berdasarkan asumsi rendemen penggilingan dan harga pasar yang berlaku.

  • Pertanyaan yang Layak Diketahui Publik

Besarnya nilai ekonomi tersebut menimbulkan pertanyaan yang wajar dari masyarakat.

Bagaimana mekanisme pengelolaan dedak, menir, dan sekam dalam proses penggilingan gabah yang diserap Bulog?

Apakah mitra penggilingan memperoleh hak atas hasil samping tersebut sebagai bagian dari kerja sama?

Apakah Bulog mencatat hasil samping itu sebagai aset atau pendapatan perusahaan?

Ataukah perjanjian kerja sama telah mengatur pembagian manfaat ekonomi secara khusus antara para pihak?

Pertanyaan tersebut tidak bertujuan mencari kesalahan. Pertanyaan itu muncul karena nilai ekonominya cukup besar dan berkaitan dengan pengelolaan rantai pangan yang menyangkut kepentingan publik.

Dalam tata kelola modern, keterbukaan informasi menjadi instrumen penting untuk membangun kepercayaan masyarakat terhadap lembaga yang mengelola sumber daya publik.

  • Mengapa JPKP Perlu Bersuara?

Sebagai organisasi yang telah menjalin Perjanjian Kerja Sama dengan Direktorat Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Badan Pangan Nasional melalui PKS Nomor 07/KS.02.01/B2.2/3/2025 dan Nomor 007/DPP-JPKP/III/2025 tentang Sinergitas Penguatan Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan, JPKP memiliki tanggung jawab moral untuk mendorong tata kelola pangan yang transparan dan akuntabel.

Kerja sama tersebut lahir dari semangat partisipasi masyarakat dalam mendukung kebijakan pangan nasional sekaligus memperkuat pengawasan sosial terhadap program strategis pemerintah.

Atas dasar itu, dorongan terhadap keterbukaan informasi harus dipahami sebagai upaya memperkuat kepercayaan publik, bukan sebagai bentuk kecurigaan terhadap institusi tertentu.

  • Transparansi Harus Menjangkau Seluruh Rantai Nilai

Keberhasilan program serapan gabah tidak hanya diukur dari jumlah gabah yang berhasil dibeli atau jumlah beras yang tersimpan di gudang.

Keberhasilan juga terlihat dari kemampuan penyelenggara menjelaskan seluruh rantai nilai ekonomi yang muncul selama proses pengadaan dan pengolahan berlangsung.

Dedak, menir, dan sekam memang merupakan hasil samping. Namun, ketika nilai ekonominya mencapai ratusan miliar rupiah, publik memiliki alasan yang sah untuk memahami bagaimana hasil tersebut dikelola.

Negara telah menghitung setiap kilogram gabah yang masuk ke rantai pasok pangan nasional.

Karena itu, masyarakat juga berhak mengetahui tata kelola nilai ekonomi yang lahir dari setiap proses penggilingan.

Keterbukaan yang utuh tidak berhenti pada beras yang tersimpan di gudang, tetapi mencakup seluruh manfaat ekonomi yang muncul dari setiap bulir padi yang dibeli menggunakan uang negara.

Dengan transparansi yang kuat, kepercayaan publik akan tumbuh, tata kelola pangan semakin sehat, dan keberhasilan program serapan gabah dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat. (Redaksi)

  • Penulis: Redaksi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Peserta calon manajer Koperasi Desa Merah Putih mengikuti latihan dasar kemiliteran dalam Program SPPI 2026 yang menjadi sorotan DPR RI terkait usulan penghapusan Latsarmil.

    DPR Desak Latihan Dasar Kemiliteran KDMP Dihapus, Negara Berpotensi Hemat Lebih dari Rp1 Triliun

    • calendar_month Rabu, 1 Jul 2026
    • account_circle Ahmad Royani, S.Pd.I
    • 0Komentar

    Jakarta | Warta Edukasi – Program Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) bagi calon manajer Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) kembali menuai sorotan. Anggota Komisi I DPR RI, TB Hasanuddin, mendesak pemerintah menghapus komponen latihan dasar kemiliteran dalam program pendidikan tersebut karena dinilai tidak relevan dengan tugas pengelola koperasi. Menurut Hasanuddin, pemerintah sebaiknya memfokuskan waktu dan anggaran […]

  • Pemerintah Tetapkan 1 Ramadan 1447 H Jatuh pada 19 Februari 2026

    Pemerintah Tetapkan 1 Ramadan 1447 H Jatuh pada 19 Februari 2026

    • calendar_month Rabu, 18 Feb 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Jakarta, wartaedukasi.com – Pemerintah resmi menetapkan 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Keputusan tersebut diumumkan setelah pelaksanaan sidang isbat yang digelar oleh Kementerian Agama Republik Indonesia. Sidang isbat berlangsung di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Selasa (17/2/2026), dan dipimpin langsung oleh Menteri Agama, Nasaruddin Umar. Dalam konferensi pers seusai sidang, Menag menyampaikan […]

  • Pemilihan Ketua RT 03 Langkapura, Dua Kandidat Rebut 173 Suara

    Pemilihan Ketua RT 03 Langkapura, Dua Kandidat Rebut 173 Suara

    • calendar_month Minggu, 3 Mei 2026
    • account_circle Orba Battik
    • 0Komentar

    Bandar Lampung, Warta Edukasi –Pemilihan Ketua RT 03 Langkapura menjadi perhatian warga setempat. Kegiatan itu berlangsung di Lingkungan 2, Kelurahan Langkapura, Bandar Lampung. Warga datang sejak pagi untuk menyalurkan hak pilih. Panitia membuka proses pemungutan suara sesuai jadwal. Warga hadir bergantian dengan tertib. Mereka mengikuti setiap tahapan sesuai arahan panitia. Antusiasme masyarakat terlihat cukup tinggi. […]

  • Rektor UII Tolak Kampus Kelola Dapur MBG: Jaga Nalar Kritis Akademik

    Rektor UII Tolak Kampus Kelola Dapur MBG: Jaga Nalar Kritis Akademik

    • calendar_month Rabu, 6 Mei 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Oleh : Kang WeHaJakarta Wartaedukasi – Dilansir dari Media Nasional, Rektor Universitas Islam Indonesia, Fathul Wahid, menyatakan penolakannya terhadap rencana pelibatan perguruan tinggi dalam pembangunan dan pengelolaan dapur program makan bergizi gratis (MBG). Dilansir dari media nasional, Fathul menilai kampus harus tetap menjaga fungsi utamanya sebagai institusi pendidikan yang berfokus pada peningkatan mutu akademik, riset, […]

  • Literasi SMP Tubaba Meningkat Berkat Kolaborasi MKKS dan Perpustakaan

    Literasi SMP Tubaba Meningkat Berkat Kolaborasi MKKS dan Perpustakaan

    • calendar_month Sabtu, 14 Feb 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    MKKS SMP Se-Tubaba Lakukan Kunjungan ke Dinas Perpustakaan Tulang Bawang Barat, WARTA EDUKASI– Literasi menjadi fokus utama Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) tingkat SMP se-Tulang Bawang Barat (Tubaba) saat melakukan kunjungan kerja ke Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah, Selasa (10/2/2026). Kegiatan ini diikuti oleh 45 peserta perwakilan SMP se-Kabupaten Tubaba dengan tujuan memperkuat pengembangan literasi […]

  • Menkeu Tegas: Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS Tidak Masuk Akal, Fundamental Ekonomi Indonesia Masih Kuat

    Menkeu Tegas: Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS Tidak Masuk Akal, Fundamental Ekonomi Indonesia Masih Kuat

    • calendar_month Minggu, 31 Mei 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA, WARTA EDUKASI – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah hingga menyentuh level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat dinilai tidak masuk akal apabila melihat kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini. Menurut Purbaya, berbagai indikator ekonomi domestik masih menunjukkan kinerja yang relatif kuat sehingga tekanan terhadap rupiah tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi […]

expand_less