MERDEKA YANG DIRAYAKAN, KEADILAN YANG MASIH DIPERJUANGKAN
- account_circle Wawan Hidayat
- calendar_month 5 menit yang lalu
- print Cetak

Poster HUT RI ke-81 Tahun 2026 dari JPKP Tulang Bawang Barat yang menampilkan semangat perjuangan kemerdekaan Indonesia sebagai refleksi atas kondisi bangsa, pembangunan daerah, dan cita-cita keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Opini Publik
Oleh : Wawan Hidayat Ketua DPD JPKP Tubaba
Setiap tanggal 17 Agustus, merah putih berkibar di seluruh penjuru negeri. Panggung-panggung kemerdekaan berdiri megah, pidato tentang nasionalisme menggema, dan kata “merdeka” diteriakkan dengan penuh semangat. Namun pertanyaannya, apakah kemerdekaan hari ini hanya sebatas seremoni, atau benar-benar telah hadir dalam kehidupan rakyat?
Delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka bukanlah waktu yang singkat. Negeri ini telah melahirkan gedung-gedung tinggi, jalan tol yang membentang, teknologi yang berkembang, dan berbagai capaian pembangunan. Tetapi di balik semua itu, masih tersimpan ironi yang sulit disembunyikan.
Di banyak daerah, termasuk Kabupaten Tulang Bawang Barat, kemerdekaan sering kali terasa berbeda antara yang berada di ruang kekuasaan dan mereka yang hidup di lapisan bawah masyarakat. Ketika pejabat berbicara tentang pertumbuhan ekonomi, masih ada rakyat yang berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ketika laporan pembangunan dipenuhi angka keberhasilan, masih ada warga yang mempertanyakan manfaat nyata pembangunan itu bagi kehidupan mereka.
Kemerdekaan sejatinya bukan hanya soal bebas dari penjajahan asing. Kemerdekaan adalah ketika rakyat bebas dari kemiskinan, bebas dari ketidakadilan, bebas dari kesenjangan kesempatan, dan bebas menyampaikan kritik tanpa rasa takut. Jika masih ada masyarakat yang merasa jauh dari akses pendidikan berkualitas, layanan kesehatan yang layak, atau peluang ekonomi yang setara, maka kemerdekaan itu belum sepenuhnya selesai diperjuangkan.
Tulang Bawang Barat dikenal sebagai daerah yang memiliki visi pembangunan dan ikon-ikon kemajuan yang membanggakan. Namun pembangunan fisik tidak boleh menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan. Jalan yang mulus tidak selalu berarti kesejahteraan yang merata. Gedung yang megah tidak otomatis mencerminkan kehidupan rakyat yang lebih baik. Sebab ukuran sesungguhnya adalah apakah petani semakin sejahtera, apakah pemuda memiliki pekerjaan yang layak, apakah UMKM tumbuh, dan apakah masyarakat merasakan kehadiran negara dalam kehidupan mereka.
Ironinya, di era kemerdekaan modern, penjajahan tidak lagi datang dengan senjata. Ia hadir dalam bentuk ketimpangan, ketergantungan ekonomi, birokrasi yang berbelit, serta praktik-praktik yang menjauhkan rakyat dari hak-haknya. Kita merdeka secara politik, tetapi belum tentu merdeka secara ekonomi. Kita merdeka mengibarkan bendera, tetapi belum tentu merdeka dari berbagai persoalan yang membelenggu kehidupan rakyat sehari-hari.
Karena itu, memaknai kemerdekaan hari ini bukan hanya mengenang jasa para pahlawan. Kemerdekaan harus menjadi keberanian untuk berkata jujur bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang belum selesai. Kritik terhadap keadaan bukanlah bentuk kebencian kepada bangsa, melainkan wujud cinta yang menginginkan Indonesia menjadi lebih baik.
Pada usia ke-81 Republik Indonesia, mungkin pertanyaan paling penting bukan lagi “Apakah Indonesia sudah merdeka?” melainkan “Siapa saja yang sudah benar-benar merasakan kemerdekaan itu?”
Sebab kemerdekaan yang sejati bukan diukur dari seberapa meriah perayaannya, melainkan dari seberapa banyak rakyat yang merasakan keadilan, kesejahteraan, dan harapan dalam hidupnya.
Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.
Merdeka bukan sekadar kata. Merdeka adalah keadilan yang harus dirasakan oleh semua.
- Penulis: Wawan Hidayat
- Editor: Redaksi Warta Edukasi
- Sumber: DPD JPKP Tulang Bwang Barat










