Raja-Raja Besar, Kok Masih Numpang di Lesung?
- account_circle Djoko Tp
- calendar_month Selasa, 15 Sep 2026
- print Cetak

Lesung Rakyat dan Wajah Kekuasaan
Literasi Sore — Sabda Kehidupan
Oleh: Djoko TP
Ada sebuah gambaran pewayangan yang sederhana, tetapi menyimpan sindiran yang dalam: Kresna, Semar, Baladewa, dan Hanoman berada di sebuah lesung kayu tua.
Sekilas, pemandangan itu mungkin hanya dianggap sebagai bagian dari dunia pewayangan. Namun, jika direnungkan lebih jauh, justru di situlah letak pesannya.
Mengapa para tokoh besar itu tidak berada di atas singgasana? Mengapa bukan di istana yang megah? Mengapa justru berada di atas lesung?
Sebab lesung bukan sekadar benda dapur.
Lesung adalah simbol kehidupan rakyat. Di sanalah padi ditumbuk, pangan diolah, dan kebutuhan hidup keluarga dipersiapkan. Lesung menjadi saksi bahwa kehidupan besar sering kali bertumpu pada pekerjaan-pekerjaan kecil yang dilakukan rakyat biasa.
Di situlah sindiran kehidupan dimulai.
Ketika Kekuasaan Lupa pada Lesung
Kresna melambangkan kecerdasan dan kebijaksanaan. Tetapi kecerdasan kehilangan makna apabila hanya digunakan untuk menyusun strategi kekuasaan, sementara rakyat masih bergulat dengan harga kebutuhan pokok, pekerjaan, pendidikan, kesehatan, dan biaya hidup.
Semar adalah suara rakyat sekaligus simbol nurani. Ia mengingatkan bahwa kebenaran tidak selalu lahir dari ruang-ruang berpendingin udara, gedung megah, atau kursi kekuasaan.
Kadang kebenaran justru terdengar dari dapur yang mulai sepi, sawah yang semakin sulit digarap, pasar yang pembelinya berkurang, buruh yang menghitung upah, atau keluarga yang setiap malam menghitung pengeluaran sebelum tidur.
Baladewa adalah kekuatan. Namun kekuatan tidak semestinya digunakan untuk membuat rakyat takut. Kekuatan seharusnya hadir untuk melindungi mereka yang lemah dan memastikan hukum serta kebijakan tidak hanya tajam kepada mereka yang tidak memiliki kekuasaan.
Sementara Hanoman adalah keberanian untuk bergerak.
Sebab persoalan rakyat tidak selesai hanya dengan rapat, pidato, seremoni, dan tumpukan dokumen kebijakan. Ada waktunya kekuasaan turun dari podium, meninggalkan ruang rapat, lalu melihat langsung bagaimana rakyat menjalani kehidupannya.
Jika keempat tokoh itu disatukan, pesannya menjadi jelas:
Kresna memberi arah.
Semar menjaga nurani.
Baladewa memberi kekuatan.
Hanoman berani bertindak.
Dan semuanya kembali kepada lesung.
Lesung Rakyat di Tengah Gemerlap Kekuasaan
Hari ini kita hidup dalam zaman yang berbeda. Lesung kayu mungkin semakin jarang digunakan. Teknologi telah mengambil alih banyak pekerjaan yang dahulu dilakukan secara manual.
Namun, “lesung rakyat” sebenarnya masih ada.
Ia berubah bentuk menjadi warung kecil, sawah, pasar tradisional, pabrik, kantor, bengkel, ojek, usaha rumahan, kios kelontong, hingga berbagai pekerjaan informal yang menjadi tumpuan jutaan keluarga.
Di sanalah denyut kehidupan sesungguhnya berlangsung.
Ironisnya, semakin tinggi seseorang naik dalam tangga kekuasaan, semakin besar pula risiko ia kehilangan pandangan terhadap kehidupan di bawahnya.
Jabatan membuat seseorang duduk di kursi empuk. Kekuasaan membuat akses terbuka lebar. Fasilitas negara tersedia. Gedung-gedung pemerintahan berdiri megah.
Tetapi pertanyaan paling sederhana justru sering terlupakan:
Bagaimana keadaan rakyat yang menopang semuanya?
Apakah petani mendapatkan harga yang layak?
Apakah buruh mampu memenuhi kebutuhan keluarganya?
Apakah pedagang kecil masih mampu bertahan?
Apakah anak-anak dari keluarga sederhana memiliki kesempatan pendidikan yang baik?
Apakah pelayanan kesehatan benar-benar mudah dijangkau?
Apakah lapangan pekerjaan tersedia?
Dan yang paling penting: apakah rakyat merasa bahwa negara hadir untuk mereka?
Sebab keberhasilan pemerintahan tidak semestinya hanya diukur dari banyaknya gedung yang dibangun, panjangnya pidato yang disampaikan, atau banyaknya seremoni yang dilaksanakan.
Keberhasilan seharusnya juga terlihat dari dapur rakyat yang tetap mengepul.
Ketika Lesung Mulai Kosong
Lesung yang kosong sebenarnya merupakan kritik yang sangat sederhana.
Ia tidak pandai berdebat. Ia tidak bisa melakukan demonstrasi. Ia tidak memiliki mikrofon untuk berpidato.
Tetapi kekosongan lesung dapat berbicara lebih keras daripada ribuan kata.
Sebab sehebat apa pun seorang pemimpin, secanggih apa pun strategi politiknya, sekuat apa pun kekuasaannya, dan sebanyak apa pun penghargaan yang diterimanya, semua itu kehilangan makna ketika rakyat yang menjadi fondasi negara justru kesulitan memenuhi kebutuhan dasar.
Rakyat tidak hidup dari slogan.
Rakyat hidup dari pekerjaan.
Rakyat tidak makan dari janji.
Rakyat membutuhkan harga yang terjangkau dan pendapatan yang cukup.
Rakyat tidak membutuhkan kekuasaan yang sekadar terlihat kuat.
Mereka membutuhkan negara yang benar-benar hadir ketika kehidupan sedang sulit.
Karena itu, sesekali para pemegang kekuasaan perlu turun dari singgasana simboliknya.
Datang ke pasar. Duduk bersama petani. Mendengar buruh. Berbicara dengan pedagang kecil. Mengunjungi sekolah. Melihat pelayanan kesehatan. Mendengar keluhan warga di kampung-kampung.
Bukan untuk pencitraan.
Melainkan untuk mengingat kembali satu hal penting: kekuasaan pada akhirnya selalu kembali kepada rakyat.
Dari Singgasana Kembali ke Lesung
Mungkin inilah alasan mengapa dalam gambaran itu Kresna, Semar, Baladewa, dan Hanoman justru berada di atas lesung.
Lesung mengajarkan bahwa kehidupan tidak pernah benar-benar ditopang oleh mereka yang berdiri paling tinggi.
Kehidupan justru ditopang oleh mereka yang bekerja setiap hari tanpa banyak disebut namanya.
Petani menanam.
Guru mendidik.
Buruh bekerja.
Pedagang berjualan.
Nelayan melaut.
Ibu mengurus keluarga.
Pekerja informal mencari penghasilan dari pagi hingga malam.
Mereka mungkin tidak memiliki singgasana. Tidak memiliki panggung besar. Tidak memiliki pengawal. Tidak pula mendapatkan tepuk tangan setiap kali bekerja.
Tetapi dari tangan merekalah kehidupan terus bergerak.
Maka, kepada siapa pun yang sedang berada di atas: jangan terlalu lama menikmati ketinggian.
Sesekali lihatlah ke bawah.
Bukan untuk merasa lebih tinggi, melainkan untuk memastikan bahwa mereka yang menopang ketinggian itu masih mampu bertahan.
Sebab kekuasaan yang kehilangan rakyat pada akhirnya hanya akan menjadi kekuasaan yang kehilangan alasan untuk ada.
Dan mungkin, para “raja-raja besar” itu memang sesekali perlu kembali duduk di atas lesung.
Bukan karena tidak memiliki singgasana.
Tetapi agar tidak lupa bahwa singgasana itu sendiri berdiri di atas kehidupan rakyat.
Itulah Sabda Kehidupan:
Kemuliaan manusia bukan diukur dari seberapa tinggi ia berada, melainkan dari seberapa banyak kehidupan yang mampu ia jaga agar tetap berjalan.
Sebab pada akhirnya, setinggi apa pun seseorang naik, ia tetap membutuhkan lesung.
Dan ketika lesung rakyat kosong, tidak ada singgasana yang benar-benar kokoh.
- Penulis: Djoko Tp
- Editor: Redaksi










