Dari Makam Kiai Abdussalam hingga Muktamar NU: Satu Akar yang Melahirkan Tambakberas, Tebuireng dan Denanyar
- account_circle Kang WeHa
- calendar_month Senin, 14 Sep 2026
- print Cetak

Masjid Jami Bahrul Ulum terletak di dalam kawasan Pondok Pesantren Tambak Beras, Desa Tambakrejo Kecamatan/Kabupaten Jombang.
Jejak Sejarah Tambakberas dari Makam hingga Muktamar
Artikel Oleh : Kang WeHa
JOMBANG — Jejak sejarah Tambakberas menyimpan mata rantai panjang yang menghubungkan makam, garis keturunan, sanad keilmuan, dan perkembangan pesantren dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Kawasan Tambakberas tidak hanya menyimpan sejarah Pondok Pesantren Bahrul Ulum, tetapi juga memperlihatkan hubungan sejarah dengan beberapa pesantren besar di Jombang, termasuk Tebuireng dan Denanyar.
Informasi dari salah satu dzurriyah Pondok Pesantren Bahrul Ulum memberikan gambaran mengenai perjalanan panjang tersebut. Dari satu akar keluarga dan tradisi keilmuan, kemudian tumbuh cabang-cabang besar yang memberi warna bagi perkembangan pesantren dan Nahdlatul Ulama.

Kiai Abdussalam dan Awal Perjalanan
Jauh sebelum nama Bahrul Ulum dikenal luas, Kiai Abdussalam, yang juga dikenal sebagai Mbah Shoichah atau Mbah Sechah, membuka perjalanan awal tersebut.
Dalam sejarah resmi Bahrul Ulum, Kiai Abdussalam membabat kawasan Gedang dan merintis pendidikan di kawasan tersebut. Situs resmi Bahrul Ulum menyebut padepokannya sebagai Padepokan Selawe atau Pondok Telu.
Nama “Selawe” berkaitan dengan 25 pengikut awal yang berada dalam lingkungan perjuangan dan pendidikan beliau.
Namun, penuturan dzurriyah memberikan gambaran lain yang menarik. Jejak generasi pertama itu kini dapat ditelusuri melalui kawasan makam keluarga dan lingkungan sekitar makam Kiai Wahab.
Karena itu, masyarakat yang datang ke kawasan Tambakberas sesungguhnya tidak hanya memasuki kompleks pesantren. Mereka juga memasuki ruang yang menyimpan jejak beberapa generasi ulama.
Generasi Kedua: Kiai Utsman dan Kiai Said
Setelah Kiai Abdussalam memasuki usia lanjut, Kiai Utsman dan Kiai Said melanjutkan estafet perjuangan.
Keduanya kemudian mengembangkan pusat pendidikan dan pengajaran masing-masing. Dalam sejumlah catatan sejarah pesantren, Kiai Utsman dikenal kuat dalam pengembangan tarekat dan tasawuf, sedangkan Kiai Said lebih menekankan pengajaran syariat.
Kedua jalur keilmuan tersebut tidak menunjukkan pertentangan. Sebaliknya, keduanya menggambarkan keluasan tradisi pesantren yang menjaga hubungan antara syariat dan tasawuf.
Menurut penuturan dzurriyah yang menjadi pijakan tulisan ini, pada generasi berikutnya kedua jalur tersebut kemudian bertemu dalam pembangunan Masjid Gedang.
Masjid Gedang dan Jejak Muktamar NU
Masjid Gedang memiliki posisi penting dalam rangkaian sejarah tersebut. Lokasinya berada di kawasan yang kini dikenal sebagai GSG atau lokasi pelaksanaan Sidang Muktamar NU ke-35.
Kondisi itu mempertemukan dua zaman dalam satu ruang sejarah. Dahulu kawasan tersebut menjadi bagian dari perjalanan generasi awal ulama Tambakberas. Kini kawasan yang sama menjadi bagian dari perhelatan penting Nahdlatul Ulama.
Dengan demikian, sejarah Tambakberas tidak berhenti pada bangunan lama atau makam para pendahulu. Kawasan tersebut terus menjadi ruang yang digunakan generasi berikutnya untuk melanjutkan kehidupan keilmuan dan organisasi.
Generasi Ketiga: Kiai Asy’ari dan Kiai Khasbulloh
Memasuki generasi ketiga, mata rantai tersebut berlanjut melalui Kiai Asy’ari dan Kiai Khasbulloh.
Keduanya kemudian memiliki peran penting dalam perkembangan sejarah pesantren dan jaringan ulama Jombang.
Jalur Kiai Asy’ari kemudian berkaitan dengan lahirnya KH Hasyim Asy’ari, sedangkan jalur Kiai Khasbulloh kemudian melahirkan KH Abdul Wahab Chasbullah, salah satu tokoh penting dalam sejarah Nahdlatul Ulama.
Sumber sejarah Tebuireng juga mencatat hubungan antara jalur Kiai Utsman, putrinya Halimah, Kiai Asy’ari, dan KH Hasyim Asy’ari. Sementara dari jalur Kiai Said lahir KH Hasbullah yang kemudian menurunkan KH Abdul Wahab Chasbullah.
Dari rangkaian tersebut terlihat bahwa sejarah pesantren tidak berdiri dalam kotak-kotak yang terpisah. Hubungan keluarga, guru dan murid, sanad, serta perjuangan saling bertemu dalam perjalanan antargenerasi.
Generasi Keempat: Tebuireng, Bahrul Ulum, dan Denanyar
Pada generasi berikutnya, mata rantai tersebut berkembang melalui tiga nama besar yang memiliki keterhubungan sejarah dan keluarga.
KH Hasyim Asy’ari dan Tebuireng
KH Hasyim Asy’ari kemudian mendirikan Pesantren Tebuireng. Pesantren tersebut berkembang menjadi salah satu pusat pendidikan Islam yang berpengaruh di Indonesia.
Tebuireng juga memainkan peran penting dalam perjalanan sejarah Nahdlatul Ulama dan bangsa Indonesia.
KH Abdul Wahab Chasbullah dan Bahrul Ulum
Sementara itu, KH Abdul Wahab Chasbullah meneruskan perjuangan keluarga di Tambakberas.
Pesantren yang sebelumnya dikenal sebagai Pondok Tambakberas kemudian memperoleh nama Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas pada masa KH Abdul Wahab. Situs resmi Bahrul Ulum mencatat penyempurnaan nama tersebut berlangsung pada masa kepemimpinan KH Abdul Wahab Chasbullah.
KH Abdul Wahab tidak hanya mengembangkan pesantren. Ia juga menjadi salah satu tokoh penting dalam sejarah berdirinya Nahdlatul Ulama.
Karena itu, Bahrul Ulum berkembang bukan hanya sebagai pusat pendidikan, tetapi juga sebagai bagian dari sejarah pergerakan Islam dan kebangsaan Indonesia.
Nyai Khodijah dan Denanyar
Jalur Nyai Khodijah binti Khasbulloh bersama KH Bisri Syansuri kemudian melahirkan Pondok Pesantren Denanyar.
Denanyar selanjutnya berkembang menjadi salah satu pesantren besar di Jombang.
Dengan demikian, tiga nama besar muncul dalam satu rangkaian sejarah:
Tebuireng.
Bahrul Ulum Tambakberas.
Denanyar.
Ketiganya memiliki pusat pendidikan dan perkembangan masing-masing, tetapi sejarah keluarga dan keilmuan memperlihatkan hubungan yang saling terkait.
Bukan Sekadar Hubungan Darah
Sejarah tersebut tidak hanya berbicara tentang hubungan darah.
Para kiai mewariskan ilmu, sanad, tradisi, perjuangan, dan tanggung jawab sosial kepada generasi berikutnya.
Kiai Abdussalam meletakkan dasar. Kiai Utsman dan Kiai Said mengembangkan jalur keilmuan. Generasi berikutnya memperluas jaringan tersebut hingga melahirkan pusat-pusat pendidikan baru.
Dengan cara itulah tradisi pesantren tumbuh. Pesantren tidak sekadar berkembang melalui perluasan bangunan, tetapi melalui kesinambungan ilmu dan keteladanan.
Dari Gedang Menuju Panggung Muktamar
Hari ini, kawasan Gedang menghadirkan suasana yang berbeda dari masa generasi awal. Bangunan bertambah, jalan semakin ramai, dan teknologi berkembang pesat.
Namun, tradisi keilmuan tetap menjadi bagian penting dari kehidupan kawasan tersebut.
Ketika kawasan yang menyimpan jejak sejarah itu kemudian menjadi lokasi Sidang Muktamar NU ke-35, masa lalu dan masa depan seolah bertemu dalam satu ruang.
Dahulu para kiai membangun masjid. Kini para ulama dan nahdliyin berkumpul untuk membicarakan masa depan organisasi dan umat.
Dahulu para santri datang untuk mengaji dengan segala keterbatasan zaman. Kini generasi baru membawa kendaraan, teknologi digital, dan jaringan komunikasi modern.
Zaman berubah. Namun, pertanyaan mengenai tujuan ilmu tetap relevan.
Untuk apa ilmu diwariskan?
Ilmu tidak sekadar memberi kedudukan kepada seseorang. Ilmu juga membawa tanggung jawab agar manusia mampu memberikan manfaat kepada masyarakat.
Pelajaran Besar dari Sejarah Tambakberas
Sejarah Tambakberas pada akhirnya tidak hanya menceritakan perjalanan sebuah pondok pesantren. Kisah tersebut menunjukkan bagaimana sebuah tradisi keilmuan dapat tumbuh menjadi jaringan peradaban.
Rangkaian itu bermula dari Kiai Abdussalam, berlanjut melalui Kiai Utsman dan Kiai Said, kemudian diteruskan Kiai Asy’ari dan Kiai Khasbulloh.
Dari mata rantai tersebut muncul nama-nama besar seperti KH Hasyim Asy’ari, KH Abdul Wahab Chasbullah, serta Nyai Khodijah bersama KH Bisri Syansuri.
Mereka kemudian membangun dan mengembangkan pusat-pusat keilmuan yang tetap hidup hingga kini.
Pesantren yang besar tidak semata-mata lahir karena bangunannya besar. Pesantren tumbuh karena manusia mengabdikan hidupnya untuk ilmu.
Ilmu kemudian berpindah dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Para penerus menjaganya, mengembangkannya, lalu mengembalikannya kepada masyarakat dalam bentuk kemaslahatan.
Dari Satu Makam, Terbuka Peta Peradaban
Dari satu makam, terbuka sebuah peta peradaban.
Dari satu keluarga, tumbuh jaringan pesantren.
Dari satu generasi, lahir generasi berikutnya.
Kini, ketika Muktamar NU berlangsung di kawasan yang menyimpan jejak para pendahulu itu, pesan sejarah Tambakberas terasa semakin kuat.
Masa lalu bukan sekadar untuk dikenang, tetapi menjadi bekal untuk menentukan arah masa depan.
- Penulis: Kang WeHa
- Editor: Redaksi










