Ketika Mantan Gubernur Jadi Tersangka: Harapan Baru atau Sekadar Bab Lama yang Terulang?
- account_circle Redaksi
- calendar_month Kamis, 30 Apr 2026
- print Cetak

Ketika Mantan Gubernur Jadi Tersangka: Harapan Baru atau Sekadar Bab Lama yang Terulang?
Oleh : Kang WeHa
Penetapan seorang mantan gubernur Lampung sebagai tersangka korupsi bukan sekadar kabar hukum biasa.
Ia adalah cermin retak dari wajah kekuasaan yang selama ini tampak rapi, berwibawa, dan penuh janji. Kini, janji itu seperti gugur satu per satu, menyisakan tanya besar di benak publik: berapa banyak lagi yang belum terungkap?
Gambar seorang pria berbaju tahanan, duduk tertunduk dengan tangan terborgol, bukan hanya potret individu—ia adalah simbol runtuhnya kepercayaan.
Kekuasaan yang dulu dielu-elukan, kini berbalik menjadi beban yang harus dipertanggungjawabkan. Ironis, namun juga menyakitkan.
Namun di balik ironi ini, terselip harapan.
Penetapan tersangka ini seharusnya tidak berhenti pada satu nama. Ini harus menjadi pintu masuk untuk mengurai benang kusut praktik korupsi yang mungkin telah lama mengakar di tubuh birokrasi daerah. Jika hukum benar-benar ditegakkan tanpa pandang bulu, maka kasus ini bisa menjadi momentum penting untuk membersihkan “warisan gelap” yang ditinggalkan oleh para kepala daerah sebelumnya.
Pertanyaannya: apakah ini akan berlanjut?
Masyarakat Lampung tentu berharap lebih dari sekadar penangkapan simbolik. Mereka menunggu keberanian aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas—bukan hanya aktor utama, tetapi juga jejaring di belakangnya.
Korupsi jarang berdiri sendiri; ia tumbuh dalam sistem, dilindungi oleh relasi, dan sering kali diwariskan secara diam-diam.
Jika hanya satu yang ditumbangkan sementara yang lain dibiarkan, maka keadilan hanyalah ilusi yang dipertontonkan.
Harapan publik sederhana: jangan berhenti di sini.
Usut semua dugaan korupsi yang melibatkan mantan kepala daerah di Lampung. Buka kembali kasus-kasus lama yang mungkin tertutup debu kepentingan. Periksa ulang proyek-proyek yang menyisakan kejanggalan. Dan yang terpenting, berikan transparansi kepada rakyat—karena merekalah yang selama ini menanggung akibatnya.
Ini bukan soal balas dendam, tapi tentang pemulihan kepercayaan.
Jika langkah ini konsisten, maka untuk pertama kalinya, rakyat mungkin akan percaya bahwa hukum benar-benar berdiri tegak—bukan hanya tajam ke bawah, tapi juga berani menembus ke atas.
Dan jika tidak?
Maka gambar pria tertunduk itu hanyalah satu adegan dalam drama lama yang terus berulang, tanpa pernah benar-benar menyelesaikan cerita.
- Penulis: Redaksi

