Jadilah Katak Pembawa Air, Jangan Menjadi Cicak Peniup Api
- account_circle Redaksi
- calendar_month 1 jam yang lalu
- print Cetak

"Setetes Air Kebaikan Lebih Mulia Daripada Tiupan Api Kebencian."
Artikel Hikmah
Oleh : Majelis sholawat Nariyah Nusantara
Bismillahirrahmanirrahim
Shalallahu ‘ala Muhammad, Shalallahu ‘alaihi wasallam.
Dalam perjalanan hidup, setiap manusia selalu dihadapkan pada dua pilihan: menjadi bagian dari solusi atau menjadi bagian dari masalah. Pilihan itu terkadang tampak sederhana, namun dampaknya bisa sangat besar bagi kehidupan orang lain.
Salah satu kisah hikmah yang sering disampaikan para ulama adalah tentang katak dan cicak pada peristiwa ketika Nabi Ibrahim AS dibakar oleh Raja Namrud.
Riwayat mengenai cicak yang membantu memperbesar api memiliki dasar dalam beberapa hadis. Sementara kisah katak yang berusaha membawa air untuk memadamkan api lebih dikenal sebagai kisah hikmah yang diwariskan dalam tradisi dakwah untuk mengajarkan nilai keberpihakan kepada kebenaran.
Meski demikian, pesan yang terkandung di dalamnya sangat relevan untuk kehidupan manusia sepanjang zaman.
Katak yang Membawa Setetes Air
Dikisahkan, ketika Nabi Ibrahim AS dilemparkan ke dalam kobaran api yang sangat besar, seekor katak terus bolak-balik membawa air di mulutnya.
Seseorang bertanya kepadanya,
“Wahai katak, apa gunanya setetes air yang engkau bawa untuk memadamkan api sebesar itu?”
Katak menjawab,
“Aku tahu air ini tidak akan memadamkan api. Namun aku ingin Allah mengetahui di pihak mana aku berdiri.”
Jawaban sederhana itu menyimpan pelajaran yang sangat dalam.
Katak tidak menghitung seberapa besar hasil yang akan diperoleh. Ia tidak memikirkan apakah usahanya berhasil atau gagal. Yang ia pikirkan hanyalah keberpihakan kepada kebenaran.
Begitulah seharusnya seorang mukmin.
Ketika melihat kemiskinan, mungkin kita tidak mampu menghapusnya dari negeri ini. Namun kita masih bisa membantu satu keluarga yang kesulitan.
Ketika melihat ketidakadilan, mungkin kita tidak mampu mengubah seluruh sistem. Namun kita masih bisa menjaga diri agar tetap berlaku jujur.
Ketika hoaks dan fitnah bertebaran di media sosial, mungkin kita tidak bisa menghentikan semuanya. Namun kita bisa memilih untuk tidak ikut menyebarkannya.
Allah SWT tidak hanya menilai hasil akhir dari sebuah perjuangan. Allah juga menilai niat, keberanian, dan usaha yang dilakukan hamba-Nya.
Karena itu, jangan pernah meremehkan kebaikan sekecil apa pun.
Cicak yang Meniup Api
Berbeda dengan katak, cicak dalam kisah tersebut justru meniup-niup api agar semakin besar membakar Nabi Ibrahim AS.
Tubuhnya kecil, tetapi perbuatannya memperbesar kezaliman.
Di sinilah pelajaran penting lainnya.
Tidak semua kerusakan dilakukan oleh orang-orang besar. Sering kali kerusakan justru muncul dari tindakan kecil yang dilakukan terus-menerus.
Hari ini kita menyaksikan bentuk-bentuk “meniup api” yang terjadi di sekitar kita:
- Menyebarkan fitnah dan kabar bohong.
- Membagikan informasi tanpa tabayyun.
- Mengadu domba sesama saudara.
- Menebar kebencian di media sosial.
- Menertawakan kesulitan orang lain.
- Memprovokasi konflik demi kepentingan pribadi.
Semua itu mungkin terlihat sepele. Namun jika dilakukan oleh banyak orang, dampaknya bisa menghancurkan persaudaraan, merusak kepercayaan, bahkan memecah belah masyarakat.
Menjadi Katak di Zaman yang Sulit
Kita hidup di masa yang penuh tantangan.
Ekonomi terasa semakin berat.
Persaingan kerja semakin ketat.
Harga kebutuhan pokok terus meningkat.
Perbedaan pandangan politik sering memicu perpecahan.
Media sosial kadang lebih ramai oleh kemarahan daripada kebijaksanaan.
Dalam kondisi seperti ini, setiap orang memiliki pilihan.
Apakah akan menjadi katak yang membawa kesejukan atau menjadi cicak yang meniup kobaran api?
Jadilah katak.
Membawa ketenangan ketika orang lain marah.
Membawa solusi ketika orang lain hanya mengeluh.
Membawa harapan ketika banyak orang putus asa.
Membawa persaudaraan ketika banyak orang memilih permusuhan.
Karena dunia tidak membutuhkan lebih banyak orang yang memperbesar masalah. Dunia membutuhkan lebih banyak orang yang menghadirkan keteduhan.
Renungan untuk Kita Semua
Mungkin kita memang tidak mampu memadamkan seluruh api persoalan yang ada di dunia.
Kita tidak bisa menyelesaikan semua konflik.
Kita tidak bisa menghapus seluruh kemiskinan.
Kita tidak bisa memperbaiki semua kerusakan.
Namun setidaknya jangan sampai kita menjadi orang yang menambah kobaran api tersebut.
Jika belum mampu menjadi pemadam kebakaran, jangan menjadi penambah kebakaran.
Jika belum mampu memberi banyak manfaat, jangan menjadi sumber mudarat bagi orang lain.
Karena pada akhirnya, Allah SWT tidak akan bertanya seberapa besar kekuatan yang kita miliki. Tetapi Allah akan menilai di pihak mana kita berdiri ketika kebenaran dan kebatilan berhadapan.
Maka jadilah katak yang membawa setetes air.
Mungkin setetes air itu tidak mampu memadamkan api dunia, tetapi cukup menjadi bukti bahwa hati kita berpihak kepada kebenaran.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Shalallahu ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.
- Penulis: Redaksi







