Breaking News
light_mode

Jadilah Katak Pembawa Air, Jangan Menjadi Cicak Peniup Api

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Minggu, 7 Jun 2026
  • print Cetak

Artikel Hikmah

Oleh : Majelis sholawat Nariyah Nusantara

Bismillahirrahmanirrahim

Shalallahu ‘ala Muhammad, Shalallahu ‘alaihi wasallam.

Dalam perjalanan hidup, setiap manusia selalu dihadapkan pada dua pilihan: menjadi bagian dari solusi atau menjadi bagian dari masalah. Pilihan itu terkadang tampak sederhana, namun dampaknya bisa sangat besar bagi kehidupan orang lain.

Salah satu kisah hikmah yang sering disampaikan para ulama adalah tentang katak dan cicak pada peristiwa ketika Nabi Ibrahim AS dibakar oleh Raja Namrud.

Riwayat mengenai cicak yang membantu memperbesar api memiliki dasar dalam beberapa hadis. Sementara kisah katak yang berusaha membawa air untuk memadamkan api lebih dikenal sebagai kisah hikmah yang diwariskan dalam tradisi dakwah untuk mengajarkan nilai keberpihakan kepada kebenaran.

Meski demikian, pesan yang terkandung di dalamnya sangat relevan untuk kehidupan manusia sepanjang zaman.

Katak yang Membawa Setetes Air

Dikisahkan, ketika Nabi Ibrahim AS dilemparkan ke dalam kobaran api yang sangat besar, seekor katak terus bolak-balik membawa air di mulutnya.

Seseorang bertanya kepadanya,

“Wahai katak, apa gunanya setetes air yang engkau bawa untuk memadamkan api sebesar itu?”

Katak menjawab,

“Aku tahu air ini tidak akan memadamkan api. Namun aku ingin Allah mengetahui di pihak mana aku berdiri.”

Jawaban sederhana itu menyimpan pelajaran yang sangat dalam.

Katak tidak menghitung seberapa besar hasil yang akan diperoleh. Ia tidak memikirkan apakah usahanya berhasil atau gagal. Yang ia pikirkan hanyalah keberpihakan kepada kebenaran.

Begitulah seharusnya seorang mukmin.

Ketika melihat kemiskinan, mungkin kita tidak mampu menghapusnya dari negeri ini. Namun kita masih bisa membantu satu keluarga yang kesulitan.

Ketika melihat ketidakadilan, mungkin kita tidak mampu mengubah seluruh sistem. Namun kita masih bisa menjaga diri agar tetap berlaku jujur.

Ketika hoaks dan fitnah bertebaran di media sosial, mungkin kita tidak bisa menghentikan semuanya. Namun kita bisa memilih untuk tidak ikut menyebarkannya.

Allah SWT tidak hanya menilai hasil akhir dari sebuah perjuangan. Allah juga menilai niat, keberanian, dan usaha yang dilakukan hamba-Nya.

Karena itu, jangan pernah meremehkan kebaikan sekecil apa pun.

Cicak yang Meniup Api

Berbeda dengan katak, cicak dalam kisah tersebut justru meniup-niup api agar semakin besar membakar Nabi Ibrahim AS.

Tubuhnya kecil, tetapi perbuatannya memperbesar kezaliman.

Di sinilah pelajaran penting lainnya.

Tidak semua kerusakan dilakukan oleh orang-orang besar. Sering kali kerusakan justru muncul dari tindakan kecil yang dilakukan terus-menerus.

Hari ini kita menyaksikan bentuk-bentuk “meniup api” yang terjadi di sekitar kita:

  • Menyebarkan fitnah dan kabar bohong.
  • Membagikan informasi tanpa tabayyun.
  • Mengadu domba sesama saudara.
  • Menebar kebencian di media sosial.
  • Menertawakan kesulitan orang lain.
  • Memprovokasi konflik demi kepentingan pribadi.

Semua itu mungkin terlihat sepele. Namun jika dilakukan oleh banyak orang, dampaknya bisa menghancurkan persaudaraan, merusak kepercayaan, bahkan memecah belah masyarakat.

Menjadi Katak di Zaman yang Sulit

Kita hidup di masa yang penuh tantangan.

Ekonomi terasa semakin berat.

Persaingan kerja semakin ketat.

Harga kebutuhan pokok terus meningkat.

Perbedaan pandangan politik sering memicu perpecahan.

Media sosial kadang lebih ramai oleh kemarahan daripada kebijaksanaan.

Dalam kondisi seperti ini, setiap orang memiliki pilihan.

Apakah akan menjadi katak yang membawa kesejukan atau menjadi cicak yang meniup kobaran api?

Jadilah katak.

Membawa ketenangan ketika orang lain marah.

Membawa solusi ketika orang lain hanya mengeluh.

Membawa harapan ketika banyak orang putus asa.

Membawa persaudaraan ketika banyak orang memilih permusuhan.

Karena dunia tidak membutuhkan lebih banyak orang yang memperbesar masalah. Dunia membutuhkan lebih banyak orang yang menghadirkan keteduhan.

Renungan untuk Kita Semua

Mungkin kita memang tidak mampu memadamkan seluruh api persoalan yang ada di dunia.

Kita tidak bisa menyelesaikan semua konflik.

Kita tidak bisa menghapus seluruh kemiskinan.

Kita tidak bisa memperbaiki semua kerusakan.

Namun setidaknya jangan sampai kita menjadi orang yang menambah kobaran api tersebut.

Jika belum mampu menjadi pemadam kebakaran, jangan menjadi penambah kebakaran.

Jika belum mampu memberi banyak manfaat, jangan menjadi sumber mudarat bagi orang lain.

Karena pada akhirnya, Allah SWT tidak akan bertanya seberapa besar kekuatan yang kita miliki. Tetapi Allah akan menilai di pihak mana kita berdiri ketika kebenaran dan kebatilan berhadapan.

Maka jadilah katak yang membawa setetes air.

Mungkin setetes air itu tidak mampu memadamkan api dunia, tetapi cukup menjadi bukti bahwa hati kita berpihak kepada kebenaran.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Shalallahu ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.

  • Penulis: Redaksi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dedak, Menir, dan Sekam: Nilai Rp253 Miliar yang Jarang Dibahas

    Dedak, Menir, dan Sekam: Nilai Rp253 Miliar yang Jarang Dibahas

    • calendar_month Kamis, 18 Jun 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Oleh: Juliansyah Lubis Ketua DPW JPKP Provinsi Lampung Keberhasilan Serapan Gabah yang Patut Diapresiasi Bandar Lampung, Warta Edukasi.Com — Perum Bulog berhasil meningkatkan serapan gabah petani dalam dua tahun terakhir. Capaian tersebut layak mendapat apresiasi karena memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus menjaga stabilitas harga di tingkat petani. Data menunjukkan Bulog Lampung menyerap sekitar 202.564 ton […]

  • Koruptor lebih sadis dari Psikopat, ini faktaknya

    Koruptor lebih sadis dari Psikopat, ini faktaknya

    • calendar_month Minggu, 3 Mei 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    OPO Bedane Koruptor Karo Psikopat? (Opini Ironis Berbasis Fakta Sosial) Oleh : Kang WeHa Kadang pertanyaan paling sederhana justru paling mengganggu: opo sejatine bedane koruptor karo psikopat? Kalau merujuk ke ilmu Psikologi, psikopat adalah individu dengan gangguan kepribadian yang ditandai rendahnya empati, manipulatif, dan tidak merasa bersalah atas tindakan yang merugikan orang lain. Sederhananya: dia […]

  • 333 Warga Bandar Lampung Positif HIV Sepanjang 2025, DPRD dan LSM Desak Langkah Luar Biasa

    333 Warga Bandar Lampung Positif HIV Sepanjang 2025, DPRD dan LSM Desak Langkah Luar Biasa

    • calendar_month Rabu, 4 Mar 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Wartaedukasi.com | Bandar Lampung – Sebanyak 333 warga Kota Bandar Lampung terkonfirmasi positif Human Immunodeficiency Virus (HIV) sepanjang tahun 2025. Data tersebut menempatkan Bandar Lampung dalam status siaga darurat kesehatan, sekaligus menjadi daerah dengan temuan kasus HIV tertinggi di Provinsi Lampung. Berdasarkan hasil skrining aktif Dinas Kesehatan, dari total 333 kasus tersebut, sebanyak 227 kasus […]

  • Dari Tiga Serangkai ke Generasi Z: Pendidikan Meningkat, Tapi Kenapa Kualitas Kerja Masih Tertatih?

    Dari Tiga Serangkai ke Generasi Z: Pendidikan Meningkat, Tapi Kenapa Kualitas Kerja Masih Tertatih?

    • calendar_month Selasa, 5 Mei 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Oleh : Kang WeHa Sejarah mencatat, kebangkitan bangsa Indonesia tidak lahir dari ruang kosong. Ia tumbuh dari kesadaran kolektif yang dirintis oleh kaum intelektual muda awal abad ke-20. Salah satu tonggak pentingnya adalah peran “Tiga Serangkai”: Ernest Douwes Dekker, Suwardi Suryaningrat, dan Cipto Mangunkusumo. Melalui organisasi Indische Partij, tulisan-tulisan kritis, serta media, mereka membangun kesadaran […]

  • Polres Tubaba Gelar Penanaman Jagung Serentak Dukung Ketahanan Pangan Nasional

    Polres Tubaba Gelar Penanaman Jagung Serentak Dukung Ketahanan Pangan Nasional

    • calendar_month Sabtu, 7 Mar 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Tulang Bawang Barat, wartaedukasi.com  – Polres Tulang Bawang Barat (Tubaba), Polda Lampung menggelar kegiatan penanaman jagung serentak Kuartal I Tahun 2026 sebagai bentuk dukungan terhadap program ketahanan pangan nasional. Kegiatan tersebut dilaksanakan secara daring dan luring dan dipusatkan di lahan pertanian Tiyuh Mulya Kencana, Kecamatan Tulang Bawang Tengah, Kabupaten Tulang Bawang Barat, pada Sabtu (7/3/2026). […]

  • Keikhlasan sebagai Aset Tak Terlihat: Warisan NU dari Ulama ke Umat

    Keikhlasan sebagai Aset Tak Terlihat: Warisan NU dari Ulama ke Umat

    • calendar_month Rabu, 22 Apr 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Keikhlasan sebagai Aset Tak Terlihat: Warisan NU dari Ulama ke Umat Oleh: Kang WeHa Dalam sebuah pernyataan yang sarat makna, Yenny Wahid mengingatkan kembali akar kekuatan Nahdlatul Ulama (NU). Ia menegaskan bahwa organisasi ini sejak awal tidak didirikan untuk gagah-gagahan, bukan pula untuk mengejar jabatan atau keuntungan materi. Sejak dirintis oleh Hasyim Asy’ari bersama para […]

expand_less