Breaking News
light_mode

Negeri yang Terlalu Sering Diresmikan

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Sabtu, 21 Feb 2026
  • print Cetak

Judul: Negeri yang Terlalu Sering Diresmikan

Karya : Kang WeHa

Di sebuah negeri kecil bernama Sukamurda, matahari selalu terbit dengan gagah, seolah tak pernah tahu bahwa tanah yang disinarinya sedang retak-retak menahan tanya.

Sukamurda dipimpin oleh seorang penguasa yang akrab disapa Tuan Surya Wijaya—nama yang berarti cahaya kemenangan. Dan memang, setiap sudut negeri dipenuhi baliho wajahnya yang tersenyum cerah, lebih cerah dari jalanan yang berlubang di bawahnya.

Di negeri itu, ada lima orang yang sering bertemu di beranda warung kopi Mak Sari.

  1. Raka Pradana, guru honorer yang digaji tepat waktu—yakni tepat waktu untuk selalu terlambat.

  2. Laras Ayuningtyas, bidan desa yang stok obatnya lebih tipis dari janji kampanye.

  3. Jatmiko Wirawan, pemuda aktivis yang gemar menanam pohon dan menuai panggilan klarifikasi.

  4. Bima Adipati, pegawai negeri yang setia pada aturan, meski aturan sering tak setia pada rakyat.

  5. Mak Sari, pemilik warung kopi, saksi sejarah yang tak pernah tercatat dalam berita resmi.

Suatu sore, Raka membaca koran lokal dengan wajah sumringah.

“Hebat sekali negeri kita,” katanya. “Anggaran pembangunan meningkat pesat tahun ini.”

“Pantas,” sahut Laras lirih, “plester di puskesmas juga meningkat. Dindingnya makin banyak yang terkelupas.”

Jatmiko tertawa pendek. “Tenang, kita ini negeri yang gemar meresmikan. Lubang di jalan saja mungkin sebentar lagi diresmikan jadi kolam wisata.”

Bima, yang biasanya diam, kali ini angkat suara. “Pemerintah sudah bekerja keras. Laporan keuangan kita sangat rapi.”

Mak Sari mengangguk pelan. “Rapi sekali. Seperti sapu yang hanya menyapu halaman depan.”

Mereka terdiam.

Di Sukamurda, proyek-proyek tumbuh seperti jamur di musim hujan. Gapura megah berdiri di pintu masuk desa, bertuliskan: Selamat Datang di Negeri Maju dan Sejahtera. Sayangnya, huruf “Sejahtera” sering terhalang genangan air.

Setiap bulan ada peresmian. Tuan Surya memotong pita lebih sering daripada petani memotong padi. Kamera-kamera berkilat, tepuk tangan terdengar meriah, dan berita-berita memuji kemajuan yang luar biasa—kemajuan dalam ukuran baliho dan spanduk ucapan terima kasih.

Sementara itu, Raka harus mengajar tiga kelas sekaligus karena kekurangan tenaga. Laras menenangkan ibu hamil dengan kalimat, “Tenang, Bu, kita punya doa dan semoga listrik tidak padam.” Jatmiko mencoba mengadakan diskusi publik, tapi izin tempat lebih sulit didapat daripada izin tambang.

Suatu hari, banjir kecil menggenangi pasar. Airnya setinggi mata kaki—cukup untuk membuat ikan-ikan kecil berenang di antara sandal jepit.

“Ini bukti kemajuan,” ujar seorang pejabat dalam konferensi pers. “Artinya drainase kita bekerja, airnya terkumpul dengan baik.”

“Benar,” bisik Raka, “terkumpul dan tak tahu jalan pulang.”

Ironi di Sukamurda begitu halus, seperti senyum Tuan Surya di baliho. Negeri itu tak kekurangan slogan. Yang kurang hanyalah keberanian untuk mendengar.

Pada suatu malam, Jatmiko berdiri di tepi sungai yang mulai menyempit oleh proyek reklamasi mini. Ia berkata pelan, “Negeri ini tidak sakit karena kekurangan dana. Ia sakit karena terlalu sering dipuji.”

Bima menunduk. Untuk pertama kalinya ia merasa laporan yang ditandatanganinya lebih berat dari map biru yang membungkusnya.

Mak Sari menatap langit. “Dulu kita bangga karena tanah ini subur,” katanya. “Sekarang kita bangga karena pidato kita panjang.”

Laras tersenyum getir. “Mungkin negeri ini tidak butuh peresmian lagi. Ia butuh dipeluk.”

Keesokan harinya, Tuan Surya kembali meresmikan sesuatu—sebuah taman kota dengan air mancur yang menyala indah. Airnya menari tinggi, sementara di pinggiran negeri, warga masih menari di atas lumpur.

Sukamurda tetap berdiri. Baliho tetap tersenyum. Pidato tetap bergema.

Dan lima orang itu tetap berkumpul di warung Mak Sari—menyeduh harapan yang rasanya kadang pahit, kadang hambar, tapi selalu mereka minum bersama.

Sebab mereka tahu, negeri yang terluka bukan negeri yang hancur.

Ia adalah negeri yang terlalu sering mengatakan “kami baik-baik saja,” saat sebenarnya sedang belajar bagaimana caranya jujur pada dirinya sendiri.

  • Penulis: Redaksi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Abu Vulkanik Tutupi Jalan Tubaba, Polres Kerahkan Water Cannon

    Abu Vulkanik Tutupi Jalan Tubaba, Polres Kerahkan Water Cannon

    • calendar_month Selasa, 8 Sep 2026
    • account_circle Wawan Hidayat
    • 0Komentar

    TULANG BAWANG BARAT, WARTA EDUKASI — Polres Tulang Bawang Barat (Tubaba) mengerahkan kendaraan Armored Water Cannon (AWC) untuk membersihkan endapan abu vulkanik di sejumlah ruas jalan di Kecamatan Tulang Bawang Tengah, Kabupaten Tulang Bawang Barat, Lampung, Senin (7/9/2026). Pembersihan dilakukan personel Satuan Samapta Polres Tubaba di Jalan Pulung Kencana, Jalan Tirta Makmur, dan Jalan Raden […]

  • Raja-Raja Besar, Kok Masih Numpang di Lesung?

    Raja-Raja Besar, Kok Masih Numpang di Lesung?

    • calendar_month Selasa, 15 Sep 2026
    • account_circle Djoko Tp
    • 0Komentar

    Lesung Rakyat dan Wajah Kekuasaan Literasi Sore — Sabda Kehidupan Oleh: Djoko TP Ada sebuah gambaran pewayangan yang sederhana, tetapi menyimpan sindiran yang dalam: Kresna, Semar, Baladewa, dan Hanoman berada di sebuah lesung kayu tua. Sekilas, pemandangan itu mungkin hanya dianggap sebagai bagian dari dunia pewayangan. Namun, jika direnungkan lebih jauh, justru di situlah letak […]

  • Santunan Ramadan Pramadji, Wujud Kepedulian Sosial dan Penguatan Ikatan di Tingkat Akar Rumput

    Santunan Ramadan Pramadji, Wujud Kepedulian Sosial dan Penguatan Ikatan di Tingkat Akar Rumput

    • calendar_month Rabu, 18 Mar 2026
    • account_circle arif
    • 0Komentar

    Lampung Selatan, WARTA EDUKASI.COM — Kegiatan santunan Ramadan yang digelar Anggota DPRD Kabupaten Lampung Selatan, Pramadji Nadya Inggarjito, di Dusun Munggur, Desa Sindang Sari, Kecamatan Tanjung Bintang, Rabu (18/3/2026), tidak hanya menjadi agenda berbagi semata. Lebih dari itu, kegiatan ini mencerminkan peran sosial wakil rakyat dalam membangun kedekatan dan solidaritas di tengah masyarakat. Sebanyak 121 […]

  • Wujudkan Kepedulian Sosial, Pengurus DPD dan DPC LSM Trinusa Bagikan Bansos Sambut Rakernas Ke-4

    Wujudkan Kepedulian Sosial, Pengurus DPD dan DPC LSM Trinusa Bagikan Bansos Sambut Rakernas Ke-4

    • calendar_month Selasa, 11 Agt 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Lampung Selatan, Warta Edukasi – Dalam rangka menyambut Rapat Kerja Nasional (Rakernas) LSM Triga Nusantara Indonesia (Trinusa) yang ke-4, pengurus Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Provinsi Lampung dan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Kabupaten Lampung Selatan menggelar kegiatan sosial berupa pembagian bantuan sosial (bansos) kepada warga. Acara berlangsung di Sekretariat DPC LSM Trinusa Kabupaten Lampung Selatan dan […]

  • Manfaat Bunga Telang untuk Kesehatan: Antara Khasiat Tradisional dan Fakta Ilmiah

    Manfaat Bunga Telang untuk Kesehatan: Antara Khasiat Tradisional dan Fakta Ilmiah

    • calendar_month Rabu, 18 Feb 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Tulang Bawang Barat, wartaedukasi.com – Bunga telang atau Clitoria ternatea semakin populer dalam beberapa tahun terakhir, terutama sebagai minuman herbal berwarna biru alami yang menarik perhatian masyarakat. Selain tampilannya yang estetis, tanaman ini disebut-sebut memiliki sejumlah manfaat kesehatan. Namun, bagaimana fakta ilmiahnya? Kandungan Aktif Bunga Telang Secara ilmiah, bunga telang mengandung senyawa bioaktif berupa: Antosianin […]

  • Takhtiman Yanbu’ul Ulum, Abi Syukron: Khatam Bukan Akhir Belajar

    Takhtiman Yanbu’ul Ulum, Abi Syukron: Khatam Bukan Akhir Belajar

    • calendar_month Minggu, 28 Jun 2026
    • account_circle ARIF
    • 0Komentar

    Takhtiman Yanbu’ul Ulum Jadi Momentum Santri Memulai Perjalanan Ilmu Lampung Selatan, Warta Edukasi.Com — Lantunan ayat suci Al-Qur’an menggema memenuhi aula Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Diniyyah Putra-Putri Yanbu’ul Ulum, Sabtu malam Ahad (27/6/2026). Di hadapan para wali santri, ulama, dan tamu undangan, puluhan santri menundukkan kepala dengan penuh khidmat. Malam itu bukan sekadar seremoni kelulusan, […]

expand_less