Breaking News
light_mode

Padi yang Tak Pernah Kenyang

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Sabtu, 21 Feb 2026
  • print Cetak

Judul: Padi yang Tak Pernah Kenyang

Penulis : Kang WeHa

Di sebuah desa kecil di tepian sawah yang menghampar luas, hiduplah sepasang suami istri: Hasan dan Maryam. Rumah mereka paling besar di antara rumah-rumah papan yang berdiri berderet di Dusun Sumber Rejeki. Lumbung padi mereka tak pernah kosong, kambing-kambingnya gemuk, dan sawahnya luas terbentang seperti sajadah hijau yang tak bertepi.

Namun, ada satu hal yang lebih besar dari sawah Hasan—keserakahannya.
Hasan dikenal rajin bekerja, tetapi juga terkenal sangat perhitungan. Setiap bulir padi dihitung, setiap rupiah dicatat, bahkan untuk sekadar segelas gula bagi tamu pun ia sering menggerutu. Maryam, istrinya, tak jauh berbeda. Ia menyimpan beras terbaik di karung tersembunyi dan menyajikan beras kualitas rendah jika ada tetangga yang menumpang makan.

Padahal, di ujung desa, tinggal dua keponakan Hasan—Amin dan Salma. Anak dari almarhum saudara laki-lakinya, Rahmat, yang wafat karena sakit bertahun-tahun lalu. Mereka kini diasuh oleh bibi mereka, Siti, saudara perempuan Hasan yang hidup serba kekurangan.

Suatu sore, Siti datang ke rumah Hasan. Wajahnya lelah, kainnya lusuh.
“Bang… Amin sudah tiga hari tidak masuk sekolah. Seragamnya sobek, sepatunya jebol. Kalau abang ada sedikit rezeki…” ucapnya lirih.

Hasan menghela napas panjang. “Siti, aku juga sedang banyak kebutuhan. Pupuk mahal. Harga gabah turun. Jangan dikira aku ini kaya raya.”

Maryam menimpali, “Kita juga harus mikir masa depan. Jangan semuanya diminta.”
Siti hanya tertunduk. Dalam hatinya ia mengingat firman Allah, “Dan berikanlah kepada kerabat akan haknya…” (QS. Al-Isra: 26). Namun ia tak kuasa membalas.

Sejak hari itu, desa seperti menyimpan bisik-bisik. Sawah Hasan yang biasanya subur, tiba-tiba diserang hama. Padi menguning sebelum waktunya. Kambingnya satu per satu sakit tanpa sebab jelas.
Hasan mulai gelisah.

“Ini pasti ada yang tidak beres,” katanya suatu malam.
Maryam berbisik, “Jangan-jangan ada yang dengki.”

Di desa itu, tinggal seorang lelaki tua bernama Pak Lurah Basri. Ia bukan kyai, bukan ustaz, apalagi dukun. Tapi orang-orang menyebutnya linuwih. Bukan karena kesaktiannya, melainkan karena kejernihan hatinya dan dalamnya pemahaman hidupnya. Ia jarang bicara, tapi setiap ucapannya menenangkan.

Hasan mendatanginya.
“Pak Basri, sawah saya rusak. Kambing saya mati satu. Apa ada orang yang mengirim sesuatu?” tanyanya dengan wajah cemas.
Pak Basri tersenyum tipis. “Hasan, kau pernah menghitung berapa kali Allah memberimu nikmat?”
Hasan terdiam.
“Padi itu tumbuh karena izin-Nya. Hujan turun bukan karena uangmu. Rezeki itu amanah, bukan milik. Kau jaga terlalu erat, sampai lupa berbagi.”
Hasan menunduk.
Pak Basri melanjutkan pelan, “Ada doa anak yatim yang terangkat ke langit. Ada air mata saudara yang kau abaikan. Hama di sawahmu mungkin bukan karena kiriman manusia… tapi karena kerasnya hatimu sendiri.”

Kata-kata itu seperti petir di siang bolong.
Malam itu Hasan tak bisa tidur. Ia teringat Amin yang sering memandang sawahnya dengan kagum. Ia teringat Salma yang pernah datang meminta beras untuk ibunya.
Pagi-pagi sekali, Hasan berjalan ke rumah Siti. Ia membawa dua karung beras terbaik, uang, dan seragam baru.
Siti terkejut. “Bang… ini?”
Hasan menunduk, air matanya jatuh. “Maafkan abang. Selama ini abang lupa… bahwa harta tak akan berkurang karena sedekah.”
Maryam yang berdiri di belakangnya ikut menangis. Ia sadar, selama ini mereka menyimpan terlalu banyak, tapi hati mereka kosong.
Beberapa bulan kemudian, sawah Hasan kembali hijau. Hama hilang. Kambingnya beranak dua. Tapi yang paling berbeda bukanlah lumbungnya—melainkan wajahnya yang kini lebih lapang.
Di surau kecil desa, Hasan sering terlihat duduk selepas Maghrib. Bukan untuk pamer kebaikan, tapi untuk belajar memahami bahwa keserakahan adalah api yang membakar diri sendiri.
Dan Pak Basri, sang lelaki linuwih, hanya tersenyum melihat perubahan itu. Baginya, yang terpenting bukan sawah yang kembali subur, melainkan hati yang akhirnya belajar tunduk.

Di desa itu, orang-orang kemudian berbisik pelan:
“Padi akan selalu menguning. Tapi hati yang kikir… hanya akan mengering jika tak disiram dengan sedekah.”

Dan Amin serta Salma kembali bersekolah, membawa harapan baru di setiap langkah kecil mereka.

  • Penulis: Redaksi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Penulis Sarwiasih Retnowiyati Budi Utami Hibahkan Buku ke Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Tubaba

    Penulis Sarwiasih Retnowiyati Budi Utami Hibahkan Buku ke Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Tubaba

    • calendar_month Jumat, 13 Mar 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Tulang Bawang Barat, wartaedukasi.com – Upaya memperkuat budaya literasi di Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba) kembali mendapat dukungan dari kalangan penulis. Ibu Sarwiasih Retnowiyati Budi Utami menyerahkan hibah buku kepada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Tubaba. Penyerahan hibah tersebut diterima langsung oleh Sekretaris Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Tubaba, Ir. Restu, ST., MT, yang mewakili Kepala […]

  • Ramadhan di Negeri Antah Berantah: Puasa di Tengah Meja yang Tak Sama Tingginya

    Ramadhan di Negeri Antah Berantah: Puasa di Tengah Meja yang Tak Sama Tingginya

    • calendar_month Sabtu, 21 Feb 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Ramadhan di Negeri Antah Berantah: Puasa di Tengah Meja yang Tak Sama Tingginya Di sebuah negeri bernama Antah Berantah, Ramadhan selalu datang dengan gegap gempita. Lampu-lampu hias menyala lebih terang dari biasanya. Spanduk ucapan selamat berpuasa membentang di jalan-jalan utama. Diskon besar terpampang di pusat perbelanjaan. Mimbar-mimbar dipenuhi tausiah tentang sabar, ikhlas, dan berbagi. Namun […]

  • Sekber 3 Konstituen Dewan Pers Dorong Stabilitas Daerah, Siap Gelar Sarasehan Arah Kebijakan Lampung

    Sekber 3 Konstituen Dewan Pers Dorong Stabilitas Daerah, Siap Gelar Sarasehan Arah Kebijakan Lampung

    • calendar_month Sabtu, 2 Mei 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Bandar Lampung, wartaedukasi – Sekretariat Bersama (Sekber) 3 Konstituen Dewan Pers menegaskan komitmennya dalam menjaga stabilitas daerah melalui penguatan peran media dan komunikasi publik yang konstruktif. Komitmen tersebut disampaikan dalam agenda konsolidasi organisasi yang turut menyoroti pentingnya sinergi antara media, pemerintah, dan masyarakat dalam mengawal pembangunan daerah. Ketua Sekber 3 Konstituen Dewan Pers, Novriwan Jaya, […]

  • Bid Propam Polda Lampung Gelar Pembinaan Etika Profesi di Polres Tulang Bawang Barat

    Bid Propam Polda Lampung Gelar Pembinaan Etika Profesi di Polres Tulang Bawang Barat

    • calendar_month Kamis, 30 Apr 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Tulang Bawang Barat, wartaedukasi – Dalam upaya menjaga kedisiplinan dan integritas anggota, Bidang Profesi dan Pengamanan (Bid Propam) Polda Lampung melaksanakan kegiatan pembinaan etika profesi serta pemulihan profesi Polri bagi personel Polres Tulang Bawang Barat. Kegiatan ini berlangsung di Aula Sarja Arya Racana Mapolres Tubaba, Kamis (30/4/2026). Kegiatan dipimpin oleh Kasubag Rehabpers Bid Propam Polda […]

  • Gerakan Penghijauan Warnai Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Tubaba, Restu: Lingkungan Sehat Cerminkan Pikiran yang Hidup

    Gerakan Penghijauan Warnai Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Tubaba, Restu: Lingkungan Sehat Cerminkan Pikiran yang Hidup

    • calendar_month Jumat, 1 Mei 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Tubaba, 30 April 2026 — Wartaedukasi Upaya menciptakan lingkungan kerja yang asri dan nyaman mulai digencarkan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba). Kegiatan penghijauan yang dipimpin langsung oleh Sekretaris Dinas, Ir. Restu, ST., MT., menjadi langkah nyata dalam mengubah wajah kawasan perkantoran yang selama ini terkesan gersang dan minim pepohonan. Dalam […]

  • Negeri yang Terlalu Sering Diresmikan

    Negeri yang Terlalu Sering Diresmikan

    • calendar_month Sabtu, 21 Feb 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Judul: Negeri yang Terlalu Sering Diresmikan Karya : Kang WeHa Di sebuah negeri kecil bernama Sukamurda, matahari selalu terbit dengan gagah, seolah tak pernah tahu bahwa tanah yang disinarinya sedang retak-retak menahan tanya. Sukamurda dipimpin oleh seorang penguasa yang akrab disapa Tuan Surya Wijaya—nama yang berarti cahaya kemenangan. Dan memang, setiap sudut negeri dipenuhi baliho […]

expand_less