“Janji yang Tumbuh di Panggung”
- account_circle Redaksi
- calendar_month Sabtu, 9 Mei 2026
- print Cetak

Sajak Paduka Raja
Oleh : Kang WeHa
“Janji yang Tumbuh di Panggung”
Di panggung kampanye
kata-kata tumbuh seperti bunga musim hujan,
subur, harum, dan penuh warna.
Visi ditanam seperti pohon harapan,
misi digantung di langit baliho
setinggi tiang listrik kota.
Rakyat menadah telinga,
seperti tanah kering menunggu hujan.
Setiap kalimat adalah embun,
setiap janji adalah matahari pagi
yang katanya tak akan pernah tenggelam.
“Perubahan,” katanya,
seolah kata itu punya sayap.
“Keberpihakan,” katanya,
seolah semua pintu akan terbuka.
Lalu hari kemenangan datang—
tepuk tangan selesai,
panggung dibongkar perlahan.
Bunga-bunga janji itu
ternyata plastik dari awal,
tetap indah dari jauh
tapi tak pernah benar-benar hidup.
Pohon visi yang ditanam dulu
tak pernah disiram lagi.
Akarnya kering
di halaman kekuasaan.
Rakyat kembali menadah telinga,
tapi kali ini hanya mendengar
suara pintu rapat yang tertutup.
Di kalender kekuasaan
musim kampanye selalu musim semi,
tapi setelah kursi diduduki
negeri ini sering terasa
seperti kemarau yang panjang.
Dan rakyat belajar satu hal:
janji memang mudah tumbuh
di tanah yang belum dimiliki.
- Penulis: Redaksi

