“Sarjana dari Mesin Fotokopi: Puisi Satir tentang Kursi DPR dan Ijazah yang Terlalu Rapi”
- account_circle Redaksi
- calendar_month Minggu, 10 Mei 2026
- print Cetak

Puisi Satir
Oleh : Kang WeHa
Di gedung yang dindingnya penuh gema pidato,
ada map-map tebal berjalan sendiri.
Isinya bukan malam panjang bersama buku,
melainkan lembaran yang terlalu bersih dari perjuangan.
Stempel berdentang seperti palu sidang,
mengetuk kenyataan menjadi cerita baru:
bahwa seseorang pernah belajar,
meski bangku kuliah tak pernah ingat wajahnya.
Di negeri ini, rupanya ilmu bisa dicetak ulang,
seperti undangan pesta atau pamflet diskon.
Mesin fotokopi bekerja lebih rajin
daripada perpustakaan.
Gelar pun dilafalkan dengan khidmat:
Sarjana ini, Sarjana itu—
huruf-huruf besar yang berdiri gagah
di depan nama yang ringan dari tanggung jawab.
Rakyat membaca berita sambil menghela napas:
betapa cepat seseorang menjadi terpelajar
ketika tinta lebih dipercaya
daripada waktu.
Ironi menjadi bunga yang mekar di ruang sidang.
Ia harum, tapi getir.
Karena di sana kebijakan ditulis
oleh tangan yang mungkin
tak pernah benar-benar belajar membaca.
Namun sejarah punya cara sendiri menertawakan kepalsuan.
Ia tidak memakai stempel,
tidak juga tanda tangan pejabat.
Sejarah hanya menulis satu kalimat sederhana:
bahwa gelar bisa dipalsukan,
tetapi kejujuran tidak pernah bisa dicetak ulang.
- Penulis: Redaksi

