Breaking News
light_mode

LPNU Jangan Jadi Pajangan: Saatnya Ekonomi Nahdiyin Naik Kelas

  • account_circle Kang WeHa
  • calendar_month 19 jam yang lalu
  • print Cetak

LPNU memiliki posisi strategis untuk menghubungkan potensi UMKM, pengusaha, petani, pesantren, dan warga NU dalam ekosistem ekonomi Nahdiyin yang lebih kuat.

OPINI PUBLIK

Oleh : Kang WeHa

TULANG BAWANG BARAT — Nahdlatul Ulama memiliki kekuatan jamaah yang besar. NU juga memiliki potensi ekonomi yang sangat luas. Warga Nahdiyin bergerak di banyak bidang. Ada petani, pedagang, pelaku UMKM, pengusaha, pekerja profesional, peternak, hingga pelaku ekonomi kreatif.

Potensi itu merupakan modal sosial dan ekonomi yang besar. Namun, ada satu pertanyaan penting: siapa yang menghubungkan dan mengonsolidasikan potensi ekonomi Nahdiyin tersebut?. Di sinilah Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) memiliki posisi strategis.

LPNU Bukan Sekadar Struktur Organisasi

LPNU tidak seharusnya hanya menjadi pelengkap struktur organisasi. Dalam Anggaran Rumah Tangga NU, LPNU memiliki tugas melaksanakan kebijakan Nahdlatul Ulama di bidang pengembangan ekonomi warga Nahdlatul Ulama. Artinya, penguatan ekonomi Nahdiyin semestinya menjadi salah satu perhatian penting organisasi. Karena itu, keberadaan LPNU harus dapat dirasakan manfaatnya oleh warga. LPNU perlu hadir bukan hanya melalui rapat dan kegiatan seremonial. LPNU perlu menghadirkan program ekonomi yang nyata dan terukur.

Potensi Ekonomi Nahdiyin Harus Dipetakan

  1. Persoalannya bukan apakah warga NU memiliki potensi ekonomi.
  2. Potensinya jelas ada.
  3. Persoalannya adalah bagaimana potensi tersebut dikelola.
  4. Berapa jumlah pelaku UMKM Nahdiyin?
  5. Siapa saja pengusaha yang ada di setiap wilayah?
  6. Apa bidang usaha mereka?
  7. Produk apa yang mereka hasilkan?
  8. Pasar apa yang mereka miliki?

Pertanyaan seperti itu membutuhkan data. Karena itu, salah satu langkah awal LPNU adalah membuat peta ekonomi Nahdiyin. Data tersebut dapat memuat pelaku usaha berdasarkan wilayah dan bidang usaha. Misalnya perdagangan, pertanian, peternakan, kuliner, jasa, industri rumahan, teknologi, konstruksi, dan ekonomi kreatif. Data yang baik dapat menjadi dasar untuk menyusun program.

Dari Data Menjadi Jaringan Usaha

Setelah data tersedia, LPNU dapat membangun jaringan antarpelaku usaha.

  1. UMKM dapat dipertemukan dengan pasar.
  2. Petani dapat dihubungkan dengan pembeli.
  3. Pengusaha dapat bertemu dengan mitra usaha.
  4. Pelaku usaha muda dapat memperoleh akses pelatihan dan pemasaran digital.
  5. Koperasi juga dapat dikembangkan sebagai bagian dari jaringan ekonomi warga.

Dengan cara tersebut, LPNU tidak harus menjalankan semua usaha sendiri. Peran LPNU justru dapat diperkuat sebagai penghubung, pengonsolidasi, pendamping, dan pembuka akses.

Satu usaha mungkin masih kecil. Namun jika banyak pelaku usaha Nahdiyin terhubung dalam sebuah jaringan, kekuatan ekonominya dapat berkembang lebih besar.

Jangan Berhenti pada Slogan Ekonomi Umat

Pembicaraan tentang ekonomi umat tidak cukup berhenti pada slogan.

  1. Warga membutuhkan solusi nyata.
  2. Petani membutuhkan pasar.
  3. Pedagang membutuhkan pasokan.
  4. UMKM membutuhkan modal dan pemasaran.
  5. Pengusaha membutuhkan jaringan.
  6. Anak muda membutuhkan keterampilan.
  7. Pesantren membutuhkan penguatan unit usaha.

Karena itu, LPNU perlu membangun rantai nilai ekonomi Nahdiyin.

Contohnya sederhana.

Petani Nahdiyin menghasilkan komoditas. Pelaku usaha membeli dan mengolah komoditas tersebut. Produk kemudian diberi merek dan dipasarkan melalui jaringan pedagang maupun platform digital. Dengan model seperti ini, nilai tambah tidak berhenti pada penjualan bahan mentah. Produk dapat berkembang menjadi barang bernilai lebih tinggi. Pada saat yang sama, semakin banyak pelaku usaha dapat terlibat.

Inilah salah satu bentuk ekosistem ekonomi Nahdiyin.

LPNU Membutuhkan Pengurus yang Kompeten

Mengurus ekonomi tidak cukup hanya dengan semangat organisasi. LPNU membutuhkan sumber daya manusia yang memahami dunia usaha. Bidang yang dibutuhkan cukup luas. Mulai dari manajemen, koperasi, keuangan, pemasaran, pertanian, teknologi digital, hukum usaha, perpajakan, perbankan, UMKM, hingga rantai pasok. Peraturan Perkumpulan Nahdlatul Ulama hasil Konferensi Besar NU 2022 juga menekankan pentingnya mempertimbangkan kompetensi dan keahlian dalam penyusunan kepengurusan lembaga. Ketentuan tersebut relevan bagi LPNU. Semangat Nahdiyin adalah modal. Kompetensi adalah alat untuk mengubah modal tersebut menjadi program yang menghasilkan.

Jangan Salah Menempatkan Kompetensi

  1. LPNU membutuhkan kombinasi berbagai keahlian.
  2. Tokoh NU dapat memberikan arah dan nilai perjuangan jam’iyah.
  3. Pengusaha memahami dunia bisnis.
  4. Akademisi dapat membantu riset dan pengembangan.
  5. Profesional dapat memperkuat manajemen.
  6. Anak muda dapat mengembangkan teknologi dan pemasaran digital.
  7. Praktisi keuangan dapat membantu memahami pembiayaan dan risiko usaha.
  8. Pelaku UMKM dapat memberikan gambaran mengenai persoalan nyata di lapangan.
  9. Mereka tidak harus semuanya berada dalam struktur inti.

Namun kompetensi mereka perlu dilibatkan dalam penyusunan dan pelaksanaan program. Dengan demikian, LPNU dapat bekerja secara lebih profesional.

Keberhasilan LPNU Harus Bisa Diukur

LPNU juga perlu memiliki ukuran keberhasilan yang jelas. keberhasilan tidak cukup diukur dari jumlah rapat, bukan pula dari banyaknya kegiatan seremonial.

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

  1. Berapa pelaku usaha yang berkembang?
  2. Berapa UMKM yang memperoleh akses pasar?
  3. Berapa pengusaha muda yang tumbuh?
  4. Berapa produk Nahdiyin yang berhasil memperluas pasar?
  5. Berapa koperasi atau unit usaha yang berkembang secara sehat?
  6. Berapa petani yang memperoleh akses pasar yang lebih baik?
  7. Dan berapa warga yang mendapatkan manfaat ekonomi dari program LPNU?

Pertanyaan tersebut penting karena program ekonomi harus menghasilkan perubahan yang dapat dilihat dan diukur.

Ekonomi Nahdiyin Membutuhkan Ekosistem

NU memiliki modal sosial yang besar. Ada pesantren, madrasah, perguruan tinggi, lembaga, badan otonom, komunitas, koperasi, UMKM, pengusaha, dan jaringan jamaah hingga tingkat desa.

Semua potensi tersebut dapat menjadi bagian dari ekosistem ekonomi Nahdiyin. Namun, ekosistem tidak akan terbentuk tanpa koordinasi.

LPNU perlu bekerja berdasarkan data, kompetensi, jaringan, transparansi, dan target yang jelas. Pengusaha juga perlu ditempatkan sebagai bagian dari ekosistem pemberdayaan. Hubungan organisasi dengan pelaku usaha perlu dibangun melalui kerja sama yang sehat dan profesional. Organisasi dapat membuka jaringan dan akses. Pelaku usaha dapat memberikan pengalaman, inovasi, dan kemampuan bisnis dan keduanya dapat saling menguatkan.

LPNU Harus Menjadi Mesin Penggerak

Pada akhirnya, LPNU harus mampu menjawab satu pertanyaan:

Apakah keberadaan LPNU benar-benar dirasakan manfaatnya oleh warga Nahdiyin? Jika belum, berarti masih ada pekerjaan besar yang harus dilakukan.

LPNU tidak harus menjadikan semua warga NU sebagai pengusaha, tugasnya adalah membuka jalan, Warga yang sudah memiliki usaha perlu mendapat ruang untuk berkembang, Warga yang memiliki potensi perlu memperoleh pendampingan.Generasi muda NU perlu mendapatkan akses pengetahuan, keterampilan, dan jaringan ekonomi.Kesejahteraan warga Nahdiyin tidak cukup hanya dibicarakan dan kesejahteraan perlu diperjuangkan melalui pendidikan, pemberdayaan, kerja sama, profesionalisme, dan kemandirian ekonomi.

  1. NU memiliki jamaah.
  2. NU memiliki jaringan.
  3. NU memiliki sumber daya manusia.
  4. NU juga memiliki pasar yang besar.

Potensi tersebut sudah ada.

Yang dibutuhkan sekarang adalah keberanian untuk menghubungkannya menjadi kekuatan ekonomi.

LPNU jangan hanya menjadi nama dalam struktur NU. LPNU harus menjadi salah satu mesin penggerak ekonomi Nahdiyin.

Sebab lembaga ekonomi yang hanya memiliki struktur akan menghasilkan administrasi. Namun lembaga ekonomi yang memiliki visi, kompetensi, jaringan, tata kelola, dan keberanian bekerja dapat melahirkan perubahan.

Saatnya ekonomi Nahdiyin naik kelas.

  • Penulis: Kang WeHa
  • Editor: Redaksi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Diskualifikasi Brian Uriarte dan Adrian Fernandez mengubah klasemen Moto3 2026. Veda Ega Pratama kini naik ke posisi tiga dan semakin dekat dengan persaingan gelar juara dunia.

    Diskualifikasi Dua Rival Utama Buka Peluang Veda Ega Pratama Bersinar di Moto3 2026

    • calendar_month Jumat, 5 Jun 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    WARTA EDUKASI – Pembalap muda Indonesia, Veda Ega Pratama, mendapat keuntungan besar dalam persaingan Moto3 musim 2026 setelah dua rival utamanya, Brian Uriarte dan Adrian Fernandez, dijatuhi sanksi diskualifikasi akibat pelanggaran teknis yang berbeda. Keputusan yang diumumkan setelah investigasi resmi Federasi Balap Motor Internasional (FIM) dan penyelenggara MotoGP tersebut mengubah peta persaingan klasemen sementara sekaligus […]

  • Ilustrasi cerpen Kembali ke Jalan Tuhan menampilkan enam tokoh laki-laki dan perempuan dalam perjalanan pertobatan, berlatar banjir, aksi penyelamatan, kitab suci, dan masjid dengan nuansa harapan serta cahaya spiritual.

    CERPEN FIKSI : KEMBALI KE JALAN TUHAN

    • calendar_month Senin, 7 Sep 2026
    • account_circle Kang WeHa
    • 0Komentar

    Karya : Kang WeHa   Hujan turun deras malam itu. Langit seperti menumpahkan seluruh kesedihannya di atas Kota Arunika. Jalan-jalan berubah menjadi sungai kecil. Lampu-lampu kendaraan memantul di genangan air, sementara suara sirene ambulans bersahutan dari kejauhan. Di sebuah bangunan tua yang hampir roboh di pinggir sungai, enam orang berdiri dalam diam. Mereka adalah orang-orang […]

  • Rupiah Tembus Rp17.700 per Dolar AS, Kelas Menengah Mulai Terjepit: Ancaman Krisis Sosial Mengintai

    Rupiah Tembus Rp17.700 per Dolar AS, Kelas Menengah Mulai Terjepit: Ancaman Krisis Sosial Mengintai

    • calendar_month Minggu, 31 Mei 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA, WARTA EDUKASI – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali memicu kekhawatiran. Pada perdagangan awal pekan, Senin (18/5/2026), rupiah bergerak di kisaran Rp17.590 hingga Rp17.660 per dolar AS. Tekanan berlanjut pada Selasa (19/5/2026), ketika nilai tukar menyentuh sekitar Rp17.725 per dolar AS. Melemahnya rupiah bukan hanya menjadi persoalan pasar keuangan, tetapi mulai […]

  • Menkeu Purbaya Respons Dugaan Aliran Uang ke Dirjen Bea Cukai, Tegaskan Ikuti Arahan Presiden

    Menkeu Purbaya Respons Dugaan Aliran Uang ke Dirjen Bea Cukai, Tegaskan Ikuti Arahan Presiden

    • calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Jakarta, Warta Edukasi — Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menanggapi dugaan aliran dana kepada Direktur Jenderal Bea dan Cukai (Dirjen Bea Cukai) Djaka Budi Utama yang mencuat dalam persidangan kasus dugaan korupsi importasi barang. Purbaya menegaskan akan mengikuti arahan Presiden RI Prabowo Subianto terkait langkah yang akan diambil terhadap jajaran Direktorat Jenderal Bea dan […]

  • DPP PSI Panggil DPD Tubaba, Kaesang Pangarep Beri Pesan Khusus: Bentuk Struktur Hingga TPS Demi Kemenangan 2029

    DPP PSI Panggil DPD Tubaba, Kaesang Pangarep Beri Pesan Khusus: Bentuk Struktur Hingga TPS Demi Kemenangan 2029

    • calendar_month Rabu, 5 Agt 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA, WARTA EDUKASI — Ketua DPD PSI Kabupaten Tulang Bawang Barat, Eko Sunarko, beserta Sekretaris DPD, Enjang Kusyono, memenuhi undangan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Solidaritas Indonesia di Jalan KH. Wahid Hasyim No. 194, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Kedatangan mereka didampingi Sekretaris Wilayah DPW PSI Lampung, Beni Batara, guna menerima pesan khusus sekaligus penyerahan […]

  • Ilustrasi demo masyarakat Pati di depan DPR RI menuntut RUU Perampasan Aset dan pemberantasan korupsi

    DARI PATI KE SENAYAN: RAKYAT DATANG, DPR JANGAN CUMA DIAM

    • calendar_month Jumat, 4 Sep 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    RAKYAT DATANG, DPR JANGAN CUMA DIAM Oleh: Redaksi Warta Edukasi Ada sesuatu yang lebih besar daripada sekadar kerumunan massa di depan Gedung DPR RI pada 27 Agustus 2026. Ada pesan. Dan pesan itu datang dari Pati. Ketika masyarakat Pati bergerak dari daerah menuju Senayan, persoalannya tidak lagi sekadar tentang Pati. Ia telah berubah menjadi pertanyaan […]

expand_less