Breaking News
light_mode

Bolo Ngarit, KUR dan Kambing yang Kehilangan Harga Diri

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Kamis, 7 Mei 2026
  • print Cetak

Opini Publik

Oleh : Kang WeHa

Di kampung-kampung Kabupaten Tulang Bawang Barat, ada satu profesi yang belakangan terasa makin akrab di telinga masyarakat Bolo Ngarit. Pagi mencari rumput. Siang membersihkan kandang. Sore memberi pakan. Malam menghitung cicilan.
Di atas kertas semua terlihat seperti kisah sukses ekonomi rakyat.

Pemerintah datang membawa slogan pemberdayaan “Peternakan rakyat harus maju.”

Sementara Perbankan datang menawarkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) “Modal mudah, bunga ringan.”

Sementara di kandang, kambing hanya menjadi saksi bisu dari kenyataan yang jauh dari romantisme program. Harga jual turun, pembeli sepi, biaya pakan naik, namun tagihan cicilan tetap berjalan tanpa kompromi.

Di titik inilah ironi mulai terasa.
Rakyat didorong produktif, tetapi pasar dibiarkan pasif.

Ketika Program Tidak Bertemu Kenyataan
Beternak kambing sejatinya bukan pilihan yang salah. Di desa-desa Tubaba, kambing sudah lama menjadi “tabungan hidup” masyarakat kecil. Dijual saat anak masuk sekolah, biaya berobat, hingga kebutuhan mendadak lainnya.

Masalahnya bukan pada ternaknya.
Masalahnya ada pada cara negara dan sistem memandang peternakan rakyat.

Hari ini masyarakat diajak memperbesar kandang, tetapi tidak diajak memahami pasar. Semua berlomba memelihara kambing, namun nyaris tidak ada jaminan soal harga, distribusi, hingga kepastian pembeli ketika panen ternak massal terjadi.

Akibatnya sederhana, populasi kambing meningkat, tetapi harga justru terjun bebas.
Dalam situasi seperti ini, yang paling diuntungkan sering kali bukan peternak, melainkan tengkulak yang membeli di harga rendah lalu menjual kembali dengan margin besar.

KUR: Solusi atau Awal Masalah Baru?

Kredit Usaha Rakyat selama ini dipromosikan sebagai jalan keluar permodalan masyarakat kecil. Secara teori, itu benar. Tanpa modal, usaha sulit berkembang.
Namun persoalannya menjadi berbeda ketika pinjaman diberikan pada sektor yang pasar dan kestabilan harganya belum benar-benar sehat.
Karena bank hanya mengenal dua hal, jatuh tempo dan angsuran.

Bank tidak mengenal musim paceklik. Tidak peduli harga kambing anjlok. Tidak memahami ternak sakit atau pembeli sepi.
Maka jangan heran jika perlahan muncul fenomena baru di desa-desa, rumput makin sulit dicari, kambing makin kurus, peternak makin stres, tetapi tagihan justru tetap gemuk.
Yang naik kelas kadang bukan ekonomi rakyatnya, melainkan angka penyaluran kreditnya.

Tubaba dan Romantisme Program Instan

Ada satu kebiasaan yang mulai terasa berulang di daerah ini: terlalu mudah jatuh cinta pada program. Hari ini kambing. Besok ikan. Lusa ayam. Minggu depan entah komoditas apa lagi.
Semua dimulai dengan seremoni. Spanduk dipasang. Foto-foto dibagikan. Kata “pemberdayaan” diucapkan berulang-ulang.
Tetapi setelah acara selesai, rakyat sering dibiarkan berjalan sendiri menghadapi kerasnya pasar.

Padahal ekonomi rakyat tidak cukup hanya diberi motivasi dan pinjaman.
Yang jauh lebih penting adalah membangun sistem, pasar ternak yang sehat, koperasi yang benar-benar bekerja, rumah potong modern, akses distribusi, hingga stabilisasi harga.

Karena peternakan bukan sekadar soal memelihara kambing. Ini soal menjaga rantai ekonomi agar tidak putus di tengah jalan.
Satir yang Diam-Diam Menyakitkan
Yang paling menyedihkan bukan ketika harga kambing jatuh. Tetapi ketika rakyat kecil mulai percaya bahwa utang adalah satu-satunya cara untuk terlihat berkembang.

Padahal para peternak lama dulu tumbuh perlahan tanpa seminar, tanpa proposal, tanpa istilah hilirisasi. Mereka paham satu prinsip sederhana, jangan memperbesar kandang jika pasar belum jelas.

Hari ini justru sering terbalik.

Kandang diperbesar lebih dulu, baru kemudian bingung menjual hasilnya. Yang Seharusnya Dibangun Kalau pemerintah benar-benar serius menjadikan bolo ngarit sebagai kekuatan ekonomi desa, maka yang dibangun tidak boleh hanya populasi ternaknya.

Yang harus dibangun adalah ekosistemnya.
Mulai dari koperasi pembeli ternak, pasar digital lokal, kontrak tetap dengan usaha aqiqah dan kurban, rumah potong modern, pelatihan pakan fermentasi, hingga membuka distribusi antar daerah.

Karena rakyat kecil sebenarnya tidak malas bekerja. Yang sering bermasalah justru sistem yang mengelilinginya.

Penutup

Bolo ngarit bukan simbol kemiskinan. Ia adalah simbol rakyat yang tetap mau bertahan hidup dengan cara halal di tengah ekonomi yang makin keras. Yang memalukan justru ketika rakyat terus didorong mengambil utang tanpa perlindungan pasar yang jelas.

Sebab kambing memang bisa berkembang biak.
Tetapi cicilan juga demikian. Dan di negeri yang terlalu sibuk melahirkan program ini, kadang yang paling cepat gemuk bukan ternaknya—melainkan beban hidup rakyatnya.

  • Penulis: Redaksi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Edukasi Kesehatan: PKK Tubaba Gelar Pemeriksaan HPV DNA untuk Deteksi Dini Kanker Serviks

    Edukasi Kesehatan: PKK Tubaba Gelar Pemeriksaan HPV DNA untuk Deteksi Dini Kanker Serviks

    • calendar_month Kamis, 9 Apr 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    TULANG BAWANG BARAT, WARTA EDUKASI — Dalam upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini kanker serviks, Tim Penggerak PKK Kabupaten Tulang Bawang Barat menggelar kegiatan pemeriksaan HPV DNA Co-Testing IVA. Kegiatan ini merupakan bagian dari peringatan Hari Kesatuan Gerak (HKG) PKK ke-54 Tahun 2026 yang dilaksanakan pada Rabu, 8 April 2026, di Puskesmas Panaragan […]

  • Koruptor lebih sadis dari Psikopat, ini faktaknya

    Koruptor lebih sadis dari Psikopat, ini faktaknya

    • calendar_month Minggu, 3 Mei 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    OPO Bedane Koruptor Karo Psikopat? (Opini Ironis Berbasis Fakta Sosial) Oleh : Kang WeHa Kadang pertanyaan paling sederhana justru paling mengganggu: opo sejatine bedane koruptor karo psikopat? Kalau merujuk ke ilmu Psikologi, psikopat adalah individu dengan gangguan kepribadian yang ditandai rendahnya empati, manipulatif, dan tidak merasa bersalah atas tindakan yang merugikan orang lain. Sederhananya: dia […]

  • Rupiah Hampir Sentuh Rp17.800 per Dolar AS, Menkeu Purbaya: “Saya Stres”

    Rupiah Hampir Sentuh Rp17.800 per Dolar AS, Menkeu Purbaya: “Saya Stres”

    • calendar_month Kamis, 28 Mei 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Jakarta, Warta Edukasi – Nilai tukar rupiah tercatat hampir menyentuh level Rp17.800 per dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan pasar spot, Selasa (26/5/2026). Kondisi tersebut menjadi sorotan pelaku pasar valuta asing karena menunjukkan tekanan yang cukup kuat terhadap mata uang domestik. Berdasarkan data perdagangan, rupiah ditutup melemah 53 poin atau 0,29 persen ke level Rp17.796 […]

  • "Setetes Air Kebaikan Lebih Mulia Daripada Tiupan Api Kebencian."

    Jadilah Katak Pembawa Air, Jangan Menjadi Cicak Peniup Api

    • calendar_month Minggu, 7 Jun 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Artikel Hikmah Oleh : Majelis sholawat Nariyah Nusantara Bismillahirrahmanirrahim Shalallahu ‘ala Muhammad, Shalallahu ‘alaihi wasallam. Dalam perjalanan hidup, setiap manusia selalu dihadapkan pada dua pilihan: menjadi bagian dari solusi atau menjadi bagian dari masalah. Pilihan itu terkadang tampak sederhana, namun dampaknya bisa sangat besar bagi kehidupan orang lain. Salah satu kisah hikmah yang sering disampaikan […]

  • Padi yang Tak Pernah Kenyang

    Padi yang Tak Pernah Kenyang

    • calendar_month Sabtu, 21 Feb 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Judul: Padi yang Tak Pernah Kenyang Penulis : Kang WeHa Di sebuah desa kecil di tepian sawah yang menghampar luas, hiduplah sepasang suami istri: Hasan dan Maryam. Rumah mereka paling besar di antara rumah-rumah papan yang berdiri berderet di Dusun Sumber Rejeki. Lumbung padi mereka tak pernah kosong, kambing-kambingnya gemuk, dan sawahnya luas terbentang seperti […]

  • Mosi Tidak Percaya,85 Persen Medis dan Staf Puskesmas Kibang Budi Jaya Minta Bupati dan DPRD Ganti Kapus

    Mosi Tidak Percaya,85 Persen Medis dan Staf Puskesmas Kibang Budi Jaya Minta Bupati dan DPRD Ganti Kapus

    • calendar_month 18 jam yang lalu
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Staf Puskesmas Kibang Budi Jaya Minta Kepala Diganti TULANG BAWANG BARAT, Warta Edukasi — Mosi tidak percaya Kepala Puskesmas Kibang Budi Jaya, Kecamatan Lambu Kibang, Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba), mencuat setelah 85 persen dari total 58 tenaga medis dan staf menyatakan penolakan terhadap kepemimpinan Ika Isnafuri, SKM., MM. Para tenaga medis dan staf tersebut […]

expand_less