Menkeu Tegas: Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS Tidak Masuk Akal, Fundamental Ekonomi Indonesia Masih Kuat
- account_circle Redaksi
- calendar_month 1 jam yang lalu
- print Cetak

JAKARTA, WARTA EDUKASI – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah hingga menyentuh level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat dinilai tidak masuk akal apabila melihat kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini.
Menurut Purbaya, berbagai indikator ekonomi domestik masih menunjukkan kinerja yang relatif kuat sehingga tekanan terhadap rupiah tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi ekonomi nasional yang sebenarnya.
“Kalau melihat fundamental ekonomi Indonesia, pelemahan hingga Rp18.000 per dolar AS tidak masuk akal,” ujar Purbaya dalam keterangannya.
Ia menjelaskan, salah satu faktor yang turut memengaruhi persepsi pasar terhadap rupiah berasal dari transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) yang berlangsung di sejumlah pusat keuangan internasional seperti Singapura, Hong Kong, London, dan New York.
NDF merupakan instrumen perdagangan mata uang yang digunakan untuk melakukan lindung nilai (hedging) atau spekulasi terhadap nilai tukar dalam periode tertentu tanpa adanya penyerahan fisik mata uang yang diperdagangkan.
Selain menyoroti pergerakan nilai tukar, Purbaya memastikan kondisi pasar obligasi pemerintah masih berada dalam kondisi terkendali meskipun rupiah mengalami tekanan.
Menurutnya, stabilitas pasar surat utang tetap terjaga berkat langkah pemerintah melakukan pembelian kembali (buyback) obligasi guna menjaga tingkat imbal hasil (yield) agar tidak mengalami lonjakan yang berlebihan.
“Tidak hanya rupiah yang kami perhatikan, tetapi juga pasar obligasi. Melalui langkah stabilisasi dan pembelian kembali obligasi, yield dapat tetap terkendali,” katanya.
Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Perbendaharaan juga terus melakukan pemantauan terhadap dinamika pasar keuangan guna menjaga kepercayaan investor dan stabilitas sistem keuangan nasional.
Lebih lanjut, Purbaya mengungkapkan bahwa pemerintah tengah menyiapkan sejumlah langkah lanjutan untuk memperkuat nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih berlangsung.
Langkah tersebut diharapkan mampu menjaga stabilitas pasar keuangan, meningkatkan kepercayaan pelaku usaha, serta memperkuat ketahanan ekonomi nasional menghadapi berbagai tekanan eksternal.
Pemerintah optimistis koordinasi antara kebijakan fiskal, moneter, dan sektor keuangan dapat menjadi fondasi penting dalam menjaga stabilitas rupiah serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.(Red)
- Penulis: Redaksi





