Rektor UII Tolak Kampus Kelola Dapur MBG: Jaga Nalar Kritis Akademik
- account_circle Redaksi
- calendar_month Rabu, 6 Mei 2026
- print Cetak

Oleh : Kang WeHa
Jakarta Wartaedukasi – Dilansir dari Media Nasional, Rektor Universitas Islam Indonesia, Fathul Wahid, menyatakan penolakannya terhadap rencana pelibatan perguruan tinggi dalam pembangunan dan pengelolaan dapur program makan bergizi gratis (MBG).
Dilansir dari media nasional, Fathul menilai kampus harus tetap menjaga fungsi utamanya sebagai institusi pendidikan yang berfokus pada peningkatan mutu akademik, riset, serta pengabdian kepada masyarakat, sekaligus mempertahankan nalar kritis terhadap kebijakan negara.
“Kampus seharusnya tidak dibebani peran operasional yang menjauhkan dari mandat strategisnya,” ujarnya saat dihubungi, Rabu (6/5/2026).
Menurutnya, perguruan tinggi tidak boleh menjadi bagian dari pelaksanaan teknis program pemerintah yang dinilai masih menyisakan berbagai persoalan, mulai dari tata kelola, ketepatan sasaran, hingga potensi beban terhadap anggaran negara.
Ia bahkan mengingatkan bahwa pelibatan kampus dalam program MBG berpotensi mengaburkan fungsi akademik serta melemahkan sikap kritis civitas akademika terhadap kebijakan pemerintah.
Fathul juga menyoroti besarnya alokasi anggaran program MBG yang disebut mencapai hampir 30 persen dari total anggaran pendidikan. Kondisi tersebut dinilai berisiko menekan ruang fiskal serta menggeser prioritas pada sektor strategis lain, termasuk pendidikan itu sendiri.
Selain itu, ia mempertanyakan efektivitas distribusi anggaran tersebut, terutama dalam memastikan bantuan benar-benar tepat sasaran kepada anak-anak yang membutuhkan.
“Perguruan tinggi bukan operator program teknis pemerintah. Jika kampus mengelola dapur MBG, itu justru merendahkan posisi kampus hanya sebagai pelaksana teknis,” tegasnya.
Lebih lanjut, Fathul menilai masih banyak agenda mendesak yang perlu menjadi fokus perguruan tinggi, seperti peningkatan kualitas riset, penguatan ekosistem akademik, serta upaya mengejar ketertinggalan di tingkat global.
Diketahui, Fathul merupakan salah satu rektor yang cukup vokal dalam mengkritisi program MBG. Ia juga pernah terlibat dalam aksi demonstrasi yang digelar Koalisi Suara Ibu di kawasan Universitas Gadjah Mada pada Desember 2025, yang menyoroti sejumlah persoalan dalam pelaksanaan program tersebut.
Selain itu, ia juga tercatat pernah ikut dalam aksi penolakan revisi Undang-Undang TNI bersama mahasiswa dan akademisi di lingkungan kampus.
Sementara itu, pemerintah melalui Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto sebelumnya mendorong keterlibatan perguruan tinggi dalam implementasi program MBG. Hal tersebut disampaikan saat peresmian dapur MBG di Universitas Hasanuddin pada April 2026.
Menurut Brian, kampus tidak hanya berperan dalam riset, tetapi juga diharapkan terlibat langsung dalam pelaksanaan kebijakan, termasuk dalam upaya pemenuhan gizi masyarakat.
Namun demikian, Fathul mengaku hingga kini belum menerima instruksi resmi terkait pendirian dapur MBG di kampusnya. Ia juga menyebut belum ada pembahasan khusus di kalangan rektor terkait kebijakan tersebut.
- Penulis: Redaksi

