JMSI Lampung Kehilangan Sosok Guru, Syamsul Bahri Nasution Wafat
- account_circle Redaksi
- calendar_month Kamis, 19 Feb 2026
- print Cetak

BANDAR LAMPUNG, WARTAEDUKASI.COM – Dunia pers Lampung berduka atas wafatnya wartawan senior Syamsul Bahri Nasution pada Minggu (15/2/2026) sekitar pukul 22.30 WIB.
Ketua Pengurus Daerah (Pengda) Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Lampung, Ahmad Novriwan, menyampaikan duka cita mendalam atas berpulangnya almarhum yang dikenal sebagai sosok guru dan panutan bagi insan pers.
“Almarhum orang baik, guru, hormat kepada semua wartawan—tidak pilih-pilih,” ujar Novriwan, Senin (16/2/2026).
Novriwan yang juga pemilik media siber Lintaslampung.com itu menilai Syamsul sebagai sosok yang egaliter dan menyenangkan dalam pergaulan profesi. Menurutnya, almarhum selalu menciptakan suasana kebersamaan di tengah para pewarta tanpa memandang latar belakang media.
Kabar wafatnya Syamsul Bahri Nasution mengejutkan banyak pihak. Sebelum mengembuskan napas terakhir, ia diketahui masih beraktivitas seperti biasa dan tidak menunjukkan tanda-tanda sakit serius.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, almarhum sempat dilarikan ke Rumah Sakit Urip Sumoharjo untuk mendapatkan penanganan medis. Namun, ia dinyatakan meninggal dunia pada malam yang sama.
Nama Syamsul Bahri Nasution bukanlah sosok asing di jagat media Lampung. Dedikasinya terhadap dunia jurnalistik telah berlangsung selama puluhan tahun. Ia tercatat sebagai anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) sejak Agustus 1984.
Sepanjang kariernya, Syamsul pernah mengemban sejumlah jabatan strategis di berbagai perusahaan media. Ia pernah menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Lampung TV (LTV), serta Pemimpin Redaksi dan Manajer di Lampung Post pada periode 1990–1999. Selain itu, almarhum juga pernah berkiprah sebagai manajer di MNC Group pada 2008–2011.
Di masa hidupnya, Syamsul dikenal sebagai mentor yang terbuka dan dermawan dalam berbagi ilmu kepada generasi muda wartawan. Ia tidak hanya mengajarkan teknik jurnalistik, tetapi juga menanamkan nilai etika dan integritas dalam menjalankan profesi.
Bagi Novriwan, kepergian Syamsul merupakan kehilangan besar, bukan hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi komunitas pers di Lampung.
“Kita kehilangan sosok panutan. Beliau tidak hanya mengajarkan teknis jurnalistik, tetapi juga sikap dan etika dalam bersikap sebagai wartawan,” pungkasnya. (Red)
- Penulis: Redaksi

