Breaking News
light_mode

Begal Punya HAM, Tetapi Rakyat Juga Punya Hak Hidup

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Minggu, 7 Jun 2026
  • print Cetak

Opini Publik

Oleh: Wawan Hidayat

Indonesia kembali dihadapkan pada perdebatan klasik antara penegakan hak asasi manusia dan kebutuhan menjaga keamanan masyarakat. Perdebatan itu mengemuka setelah Menteri HAM, Natalius Pigai, menyatakan bahwa pelaku begal tidak boleh ditembak mati tanpa melalui proses hukum. Di sisi lain, Kapolda Lampung, Helfi Assegaf, menginstruksikan jajarannya untuk menindak tegas dan menembak di tempat pelaku begal yang membahayakan masyarakat maupun petugas.

Sekilas, kedua pernyataan tersebut tampak bertentangan. Namun jika dicermati lebih dalam, keduanya lahir dari sudut pandang yang berbeda tetapi sama-sama memiliki tujuan mulia: melindungi manusia.

Memahami Konteks Pernyataan Pigai

Pernyataan Pigai muncul dalam kapasitasnya sebagai Menteri HAM. Tugas utamanya memang memastikan bahwa setiap warga negara, termasuk pelaku kejahatan, tetap mendapatkan perlindungan hak-hak dasar sesuai konstitusi dan prinsip negara hukum.

Dari perspektif HAM, negara tidak boleh bertindak sebagai algojo. Seorang tersangka tetap harus diberi kesempatan menjalani proses hukum dan pembuktian di pengadilan. Prinsip inilah yang menjadi dasar mengapa Pigai menolak praktik penembakan yang dilakukan tanpa alasan hukum yang jelas.

Dalam konteks normatif, pandangan tersebut tidak salah. Negara hukum memang tidak boleh menghalalkan tindakan di luar prosedur.

Memahami Konteks Pernyataan Kapolda Lampung

Namun ada fakta lapangan yang tidak boleh diabaikan.

Pernyataan Kapolda Lampung disampaikan pada 15 Mei 2026 saat pengungkapan kasus curanmor dan begal yang menewaskan anggota Polri, Bripka Anumerta Arya Supena. Dalam kasus tersebut, pelaku menggunakan senjata api dan melakukan perlawanan yang membahayakan petugas.

Karena itu, instruksi “tembak di tempat” yang disampaikan Kapolda bukanlah ajakan untuk mengeksekusi setiap pelaku kejahatan tanpa alasan. Pernyataan itu lahir dari situasi meningkatnya kejahatan jalanan bersenjata yang telah mengancam keselamatan masyarakat dan aparat.

Dalam aturan kepolisian sendiri, penggunaan senjata api hanya diperbolehkan dalam kondisi tertentu, terutama ketika terdapat ancaman serius terhadap nyawa manusia.

Dengan kata lain, yang dimaksud bukanlah “tembak mati sembarang orang”, melainkan tindakan tegas dan terukur terhadap pelaku yang membahayakan.

Hak Hidup Korban Sering Terlupakan

Dalam perdebatan mengenai HAM, sering kali perhatian publik tertuju pada hak pelaku. Padahal ada kelompok lain yang juga memiliki HAM, yaitu korban dan masyarakat.

Seorang pengendara motor yang dirampas kendaraannya dengan ancaman golok memiliki hak untuk pulang dengan selamat kepada keluarganya.

Seorang ibu yang dirampok di jalan memiliki hak untuk hidup tanpa rasa takut.

Seorang polisi yang bertugas menjaga keamanan juga memiliki hak untuk kembali ke rumah dalam keadaan hidup.

Karena itu, perlindungan HAM tidak boleh hanya dilihat dari sisi pelaku kejahatan. Hak hidup korban dan calon korban juga merupakan bagian dari HAM yang wajib dijaga negara.

Tidak Perlu Mempertentangkan HAM dan Keamanan

Kesalahan yang sering terjadi adalah menempatkan HAM dan keamanan sebagai dua kutub yang saling berlawanan.

Padahal keduanya justru harus berjalan beriringan.

HAM tanpa keamanan akan membuat masyarakat hidup dalam ketakutan.

Sebaliknya, keamanan tanpa penghormatan terhadap HAM dapat membuka peluang penyalahgunaan kewenangan.

Karena itu, jalan tengah yang paling rasional adalah mendukung penegakan hukum yang tegas tetapi tetap berada dalam koridor hukum.

Jika pelaku menyerah, tangkap dan proses hukum.

Jika pelaku melawan dengan senjata dan mengancam nyawa orang lain, aparat harus diberi ruang untuk mengambil tindakan tegas dan terukur demi melindungi masyarakat.

Dukungan untuk Ketegasan Kapolda Lampung

Dalam konteks situasi yang melatarbelakangi pernyataan tersebut, sikap Kapolda Lampung patut diapresiasi.

Masyarakat Lampung selama beberapa tahun terakhir berulang kali dibuat resah oleh aksi begal dan curanmor yang tidak segan melukai bahkan menghilangkan nyawa korban. Ketika aparat menunjukkan keberanian dan ketegasan menghadapi pelaku kejahatan bersenjata, masyarakat berhak merasa bahwa negara hadir melindungi mereka.

Tentu dukungan ini bukan berarti mendukung tindakan di luar hukum. Yang didukung adalah keberanian aparat dalam menjalankan tindakan tegas dan terukur sesuai aturan ketika keselamatan masyarakat terancam.

Penutup

Pada akhirnya, perdebatan ini seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan “siapa yang benar antara Pigai dan Kapolda Lampung.”

Pertanyaan yang lebih penting adalah: bagaimana negara dapat melindungi hak hidup seluruh warga negara, baik korban, masyarakat umum, petugas keamanan, maupun tersangka kejahatan, secara seimbang.

Begal memang memiliki hak asasi manusia.

Namun masyarakat yang setiap hari bekerja mencari nafkah, anak-anak yang menunggu ayahnya pulang ke rumah, dan aparat yang bertugas menjaga keamanan juga memiliki hak yang sama untuk hidup aman.

Negara yang kuat bukanlah negara yang memilih salah satu di antara keduanya. Negara yang kuat adalah negara yang mampu menegakkan hukum secara tegas, adil, dan manusiawi sekaligus. Dengan semangat itulah ketegasan aparat dan penghormatan terhadap HAM seharusnya berjalan berdampingan, bukan dipertentangkan.

  • Penulis: Redaksi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Seorang istri yang mengeluh tentang suaminya pada Ibunya

    Seorang istri yang mengeluh tentang suaminya pada Ibunya

    • calendar_month Sabtu, 14 Feb 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    INSPIRASI WARTA EDUKASI- Kisah seorang istri yang mengeluh tentang suaminya pada Ibunya Seorang wanita yang baru saja menikah datang pada ibunya dan mulai mengeluh tentang tingkah laku pasangannya. Setelah menikah dia baru tahu karakter asli suaminya yang keras kepala, gampang emosi dan sebagainya. Wanita ini berharap orang tuanya ikut mendukung dia menyalahkan suaminya itu. Namun […]

  • Pemerintah Tiyuh Dwikora Jaya Sambut Ramadhan 1447 H, Kepala Tiyuh Ajak Warga Perkuat Iman dan Semangat Membangun

    Pemerintah Tiyuh Dwikora Jaya Sambut Ramadhan 1447 H, Kepala Tiyuh Ajak Warga Perkuat Iman dan Semangat Membangun

    • calendar_month Rabu, 4 Mar 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Tulang Bawang Barat, wartaedukasi.com – Pemerintah Tiyuh Dwikora Jaya, Kecamatan Gunung Agung, Kabupaten Tulang Bawang Barat, menyampaikan ucapan selamat menunaikan ibadah puasa 1447 Hijriah kepada seluruh masyarakat. Momentum suci bulan Ramadhan ini diharapkan menjadi penguat iman sekaligus pendorong semangat membangun tiyuh ke arah yang lebih baik. Kepala Tiyuh Dwikora Jaya, Dian Dwi Antoro, A.Md.Kep, dalam […]

  • Skandal Dana Desa di Lampung Selatan, Kades Bangunan Jadi Tersangka

    Skandal Dana Desa di Lampung Selatan, Kades Bangunan Jadi Tersangka

    • calendar_month Kamis, 30 Apr 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Lampung Selatan, wartaedukasi — Kasus korupsi dana desa kembali terjadi di Kabupaten Lampung Selatan. Kepala Desa Bangunan, Kecamatan Palas, berinisial IS (45), resmi ditahan oleh Kejaksaan Negeri (Kejari) Lampung Selatan setelah ditetapkan sebagai tersangka dalam dugaan penyalahgunaan anggaran desa tahun 2024. Penahanan dilakukan pada Rabu (29/4/2026). IS dititipkan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Kalianda untuk […]

  • Ekonomi RI Tumbuh 5,61 Persen di Awal 2026, Pemerintah Klaim Keluar dari “Kutukan” 5 Persen

    Ekonomi RI Tumbuh 5,61 Persen di Awal 2026, Pemerintah Klaim Keluar dari “Kutukan” 5 Persen

    • calendar_month Rabu, 6 Mei 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Oleh : Kang weHa Wartaedukasi – Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 tercatat mencapai 5,61 persen secara tahunan (year on year/yoy). Capaian ini dinilai menjadi sinyal positif bahwa ekonomi domestik mulai keluar dari tren stagnasi di kisaran 5 persen yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menyebut angka tersebut sebagai […]

  • PINJOL: Ketika Negara Gagal Hadir, Aplikasi Datang Menagih

    PINJOL: Ketika Negara Gagal Hadir, Aplikasi Datang Menagih

    • calendar_month Selasa, 24 Feb 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Feature Tajam WartaEdukasi.com(Diadaptasi dari laporan CNA) Klik.Dana cair.Hidup terasa aman. Begitulah jebakan itu dimulai. Dimbon (43), bukan nama sebenarnya, awalnya hanya ingin beli tiket pesawat. Beberapa sentuhan jari di layar ponsel, uang masuk. Tanpa tatap muka. Tanpa jaminan. Tanpa rasa bersalah. Empat tahun kemudian, ia terdaftar di 18 aplikasi pinjaman — 16 legal, 2 ilegal. […]

  • Cegah Karhutla, Polsek Gunung Agung Gencarkan Patroli Dialogis dan Edukasi kepada Masyarakat

    Cegah Karhutla, Polsek Gunung Agung Gencarkan Patroli Dialogis dan Edukasi kepada Masyarakat

    • calendar_month Minggu, 12 Jul 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Tulang Bawang Barat, Warta Edukasi – Dalam upaya mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), Polsek Gunung Agung, Polres Tulang Bawang Barat (Tubaba), Polda Lampung, menggelar patroli dialogis sekaligus sosialisasi kepada masyarakat di Tiyuh Suka Jaya, Kecamatan Gunung Agung, Kabupaten Tulang Bawang Barat, Jumat (3/7/2026). Kapolres Tulang Bawang Barat AKBP Sendi Antoni, S.I.K., M.I.K., melalui […]

expand_less