Breaking News
light_mode

CERPEN FIKSI : KEMBALI KE JALAN TUHAN

  • account_circle Kang WeHa
  • calendar_month Senin, 7 Sep 2026
  • print Cetak

Karya : Kang WeHa

 

Hujan turun deras malam itu.

Langit seperti menumpahkan seluruh kesedihannya di atas Kota Arunika. Jalan-jalan berubah menjadi sungai kecil. Lampu-lampu kendaraan memantul di genangan air, sementara suara sirene ambulans bersahutan dari kejauhan.

Di sebuah bangunan tua yang hampir roboh di pinggir sungai, enam orang berdiri dalam diam.

Mereka adalah orang-orang yang pernah tersesat.

Enam manusia dengan masa lalu yang berbeda.

Enam hati yang pernah menjauh dari Tuhan.

Dan malam itu, takdir mempertemukan mereka kembali di jalan yang tidak pernah mereka bayangkan.


Raka adalah mantan narapidana.

Usianya baru tiga puluh lima tahun, tetapi wajahnya tampak jauh lebih tua. Lima tahun hidup di balik jeruji telah meninggalkan bekas yang sulit dihapus. Dahulu ia dikenal sebagai pemimpin kelompok jalanan. Kekerasan, perjudian, dan perkelahian adalah bagian dari hidupnya.

Ia masuk penjara setelah sebuah perkelahian menyebabkan seorang pemuda kehilangan nyawa.

Sejak saat itu, Raka hidup dalam penyesalan.

Di sebelahnya berdiri Fajar, mantan pemabuk yang dahulu bekerja sebagai preman pasar. Tubuhnya besar dan penuh tato. Banyak orang masih takut melihatnya.

Padahal, beberapa tahun terakhir, Fajar telah berubah.

Ia bekerja sebagai buruh bangunan dan mencoba menjalani hidup sederhana.

“Orang boleh mengingat masa laluku,” katanya suatu hari kepada Raka. “Tapi aku tidak mau mati sebagai orang yang sama.”

Tokoh laki-laki ketiga adalah Arman.

Berbeda dengan Raka dan Fajar, Arman pernah hidup bergelimang kemewahan. Ia seorang pengusaha sukses. Namun keserakahan membuatnya lupa diri. Ia menipu mitra bisnis, menyuap pejabat, dan menganggap uang mampu membeli segalanya.

Sampai suatu hari perusahaannya bangkrut.

Istrinya meninggalkannya.

Anaknya memilih tidak lagi berbicara dengannya.

Dalam waktu singkat, Arman kehilangan hampir seluruh hidupnya.

Tiga perempuan yang berdiri bersama mereka pun memiliki kisah sendiri.

Sari adalah seorang jurnalis.

Ia pernah menjadi jurnalis idealis, tetapi tekanan kehidupan membuatnya berubah. Ia mulai menerima uang untuk mengubah berita. Ia menutupi kejahatan orang-orang berkuasa dan menulis kebohongan demi bayaran.

Hatinya mulai gelisah ketika suatu berita palsu yang ia tulis menghancurkan kehidupan seorang guru sederhana.

Guru itu meninggal dunia sebelum sempat membersihkan namanya.

Sejak saat itu, Sari meninggalkan pekerjaannya.

“Aku menulis ribuan kata,” katanya suatu malam. “Tapi satu kebohongan ternyata cukup untuk menghancurkan satu kehidupan.”

Perempuan kedua bernama Maya.

Ia pernah hidup tanpa arah. Setelah kehilangan kedua orang tuanya, Maya melampiaskan kesedihan dengan pergaulan bebas dan kehidupan malam. Ia membenci Tuhan karena merasa hidupnya tidak adil.

“Kenapa Dia mengambil semua orang yang kucintai?” teriaknya suatu malam di depan makam kedua orang tuanya.

Namun bertahun-tahun kemudian, Maya menemukan jawaban yang berbeda.

Bukan Tuhan yang menjauhinya.

Justru dialah yang selama ini berlari menjauh.

Perempuan terakhir adalah Nabila.

Ia dikenal sebagai perempuan cerdas dan berprestasi. Namun kesombongan membuatnya merasa tidak membutuhkan siapa pun, termasuk Tuhan.

Ia percaya kecerdasan adalah segalanya.

Sampai sebuah kecelakaan membuatnya kehilangan kemampuan berjalan selama hampir satu tahun.

Di atas kursi roda, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Nabila merasa begitu kecil.

Begitu lemah.

Begitu tidak berdaya.

Dan untuk pertama kalinya pula, ia berdoa dengan air mata.


Enam orang itu dipertemukan dalam sebuah rumah singgah bernama Cahaya Jalan.

Rumah sederhana itu menjadi tempat bagi mereka untuk membantu orang-orang miskin, anak terlantar, dan korban bencana.

Mereka datang dengan masa lalu yang berbeda.

Namun memiliki satu kesamaan.

Mereka semua sedang belajar pulang.

Pulang kepada Tuhan.

Pulang kepada diri mereka yang sebenarnya.

Malam itu, hujan tidak berhenti selama berjam-jam.

Sungai di belakang rumah singgah mulai meluap.

Air perlahan masuk ke permukiman warga.

“Ini tidak beres,” kata Arman sambil melihat permukaan sungai.

Fajar berlari dari luar.

“Bendungan kecil di hulu jebol!”

Semua orang terdiam.

Dalam hitungan menit, suara teriakan terdengar dari kampung di seberang sungai.

“Banjir!”

“Tolong!”

“Anak-anak masih di dalam rumah!”

Raka langsung berlari mengambil tali.

“Kita harus ke sana.”

“Kita tidak punya perahu,” kata Sari.

“Ada perahu karet di gudang belakang,” jawab Fajar.

“Itu hanya cukup untuk tiga orang,” kata Maya.

Raka menatap mereka satu per satu.

“Kalau kita menunggu bantuan datang, mungkin sudah terlambat.”

Tak ada yang bergerak.

Hanya suara hujan.

Lalu Nabila berkata pelan.

“Kita pernah menghabiskan hidup untuk menyelamatkan diri sendiri.”

Semua mata tertuju kepadanya.

“Mungkin malam ini Tuhan memberi kita kesempatan untuk menyelamatkan orang lain.”

Kalimat itu membuat keenamnya terdiam.

Kemudian Fajar mengangkat perahu karet.

“Ayo.”


Malam berubah menjadi perjuangan.

Air sungai telah berubah menjadi arus ganas.

Rumah-rumah warga mulai terendam hingga ke atap.

Raka dan Fajar berada di bagian depan perahu. Arman mendayung dengan sekuat tenaga. Sari, Maya, dan Nabila membantu menarik warga yang terjebak.

Seorang anak kecil ditemukan berpegangan pada batang pohon.

Raka langsung terjun.

“Raka!” teriak Maya.

Arus menyeret tubuhnya beberapa meter.

Namun dengan seluruh tenaga, ia berhasil meraih anak itu.

Fajar melempar tali.

“Pegang!”

Raka menarik anak itu ke dadanya.

Untuk sesaat, wajahnya berubah.

Ia teringat seorang pemuda yang pernah mati karena perkelahian yang ia lakukan.

Wajah pemuda itu terus menghantuinya selama bertahun-tahun.

Namun malam itu, sambil memeluk seorang anak kecil yang ketakutan, Raka menangis.

“Maafkan aku,” bisiknya.

Entah kepada siapa.

Mungkin kepada pemuda itu.

Mungkin kepada Tuhan.

Atau mungkin kepada dirinya sendiri.


Mereka terus menyelamatkan warga.

Satu keluarga.

Dua keluarga.

Seorang nenek.

Seorang bayi.

Seorang perempuan hamil.

Hingga akhirnya mereka mendengar teriakan dari sebuah rumah yang hampir tenggelam.

“Di dalam ada anak-anak!”

Rumah itu adalah panti asuhan kecil.

Atapnya sudah hampir roboh.

Tanpa berpikir panjang, Fajar dan Raka masuk ke dalam.

Arman membantu dari luar.

Sari membawa anak-anak satu per satu ke perahu.

Maya memeluk mereka agar tidak panik.

Nabila, yang masih memiliki luka lama pada kakinya, terus membantu meski tubuhnya mulai gemetar.

Namun ketika anak terakhir berhasil dibawa keluar, terdengar suara keras.

BRUUK!

Salah satu dinding rumah runtuh.

Fajar tertimpa balok kayu.

“Fajar!”

Raka kembali masuk.

“Keluar, Ka!” teriak Fajar.

“Tidak!”

“Pergi!”

Raka mencoba mengangkat balok itu.

Tangannya berdarah.

Air terus naik.

Fajar tersenyum.

“Aku dulu sering menyakiti orang, Ka.”

“Diam!”

“Aku pikir aku manusia paling buruk.”

Raka terus mengangkat balok.

“Tapi ternyata Tuhan masih memberi kita kesempatan.”

“Jangan bicara seperti itu!”

Fajar menatap sahabatnya.

“Pergilah. Selamatkan yang lain.”

Raka menggeleng.

“Aku tidak akan meninggalkanmu.”

Fajar tersenyum lagi.

“Dulu aku hidup hanya untuk diriku sendiri.”

Air sudah mencapai dada mereka.

“Kalau malam ini aku mati karena menyelamatkan orang lain…”

Ia menarik napas panjang.

“…mungkin itu cara Tuhan menunjukkan bahwa tidak ada manusia yang terlambat untuk berubah.”

Dengan tenaga terakhir, Raka mengangkat balok bersama Arman yang masuk menerjang arus.

Mereka berhasil menarik Fajar keluar.

Namun perjuangan belum selesai.


Saat mereka kembali ke rumah singgah, jumlah warga yang diselamatkan telah mencapai puluhan orang.

Namun hujan masih turun.

Tiba-tiba terdengar kabar dari seorang warga.

“Ada seorang ibu tua di rumah paling ujung!”

“Dia tidak bisa berjalan!”

Raka melihat teman-temannya.

Mereka semua kelelahan.

Fajar terluka.

Nabila hampir tidak mampu berdiri.

Arman mengalami luka di kepala.

Sari menggigil karena kedinginan.

Maya menangis sambil memeluk anak-anak yang baru diselamatkan.

“Bantuan sebentar lagi datang,” kata Arman.

“Tapi ibu itu tidak punya waktu,” jawab Raka.

Mereka kembali naik ke perahu.

Enam orang itu.

Sekali lagi.

Untuk terakhir kalinya malam itu.


Rumah di ujung kampung sudah hampir tenggelam ketika mereka tiba.

Raka dan Maya masuk ke dalam.

Di sebuah kamar kecil, seorang perempuan tua duduk di atas tempat tidur.

Tubuhnya lemah.

Ia tersenyum melihat mereka.

“Akhirnya kalian datang.”

“Maaf, Nek. Kami terlambat,” kata Maya.

Perempuan tua itu menggeleng.

“Tidak.”

Ia memandang mereka.

“Kalian datang tepat waktu.”

Mereka menggendong perempuan tua itu keluar.

Namun saat hampir mencapai perahu, tanah di bawah mereka longsor.

Maya terpeleset.

Tubuhnya hampir terseret arus.

Raka memegang tangannya.

Arman memegang tubuh Raka.

Fajar, meski terluka, membantu menarik Arman.

Sari dan Nabila menjaga perempuan tua itu di perahu.

Mereka saling berpegangan.

Enam orang yang dahulu hidup sendiri-sendiri.

Enam orang yang pernah mementingkan diri sendiri.

Malam itu, mereka bertahan karena tidak ada yang mau melepaskan yang lain.

Dengan satu tarikan terakhir, Maya berhasil diselamatkan.

Namun perahu mereka terbalik.

Arus membawa mereka ke berbagai arah.


Ketika matahari mulai muncul di ufuk timur, hujan akhirnya berhenti.

Tim penyelamat menemukan mereka di tepi sungai.

Satu per satu.

Dalam keadaan lemah.

Namun hidup.

Raka ditemukan sambil memeluk dua anak kecil.

Maya ditemukan masih menggenggam tangan perempuan tua.

Arman ditemukan dalam keadaan pingsan.

Sari mengalami luka di kepala.

Nabila hampir tidak sadarkan diri.

Fajar ditemukan terakhir.

Tubuhnya terbaring di antara bebatuan.

Ketika Raka melihatnya, ia langsung berlari.

“Jar!”

Fajar membuka matanya perlahan.

Raka menangis.

“Kita selamat.”

Fajar tersenyum tipis.

“Alhamdulillah.”

Namun senyum itu perlahan menghilang.

Raka menggenggam tangannya.

“Jangan tidur.”

Fajar menatap langit yang mulai cerah.

“Ka…”

“Ya?”

“Aku takut mati dulu.”

Raka menunduk.

“Tapi sekarang…”

Fajar tersenyum.

“Aku tidak terlalu takut.”

Air mata Raka jatuh.

“Karena?”

Fajar menarik napas perlahan.

“Karena ternyata pulang itu tidak sesulit yang kita bayangkan.”

Raka menggenggam tangannya semakin erat.

“Pulang ke mana?”

Fajar memandang langit.

“Ke jalan Tuhan.”

Beberapa detik kemudian, tangannya terlepas.

Dan Fajar tidak pernah membuka matanya lagi.


Seminggu setelah banjir.

Kota Arunika kembali tenang.

Di halaman rumah singgah Cahaya Jalan, puluhan warga berkumpul.

Mereka membawa bunga.

Di tengah halaman berdiri sebuah batu sederhana.

Di atasnya tertulis:

“Untuk Fajar.
Seorang manusia yang pernah tersesat,
namun memilih pulang sebelum terlambat.”

Raka berdiri di depan batu itu.

Sari berada di sebelahnya.

Maya memegang tangan Nabila.

Arman menundukkan kepala.

Seorang anak kecil mendekati mereka.

Anak yang pernah diselamatkan Raka malam banjir itu.

“Om Raka,” katanya.

Raka berjongkok.

“Ya?”

“Om Fajar sekarang di mana?”

Semua orang terdiam.

Raka menatap langit.

Matanya berkaca-kaca.

“Om Fajar sedang pulang.”

“Pulang ke rumah?”

Raka tersenyum.

“Ke rumah yang paling indah.”

Anak itu tampak bingung.

“Jauh?”

Raka mengangguk perlahan.

“Sangat jauh.”

“Terus kita bisa bertemu Om Fajar lagi?”

Raka menatap kelima sahabatnya.

Mereka semua pernah tersesat.

Pernah jatuh.

Pernah melakukan kesalahan.

Pernah merasa terlalu kotor untuk kembali kepada Tuhan.

Namun mereka belajar satu hal.

Bahwa selama manusia masih bernapas, pintu pulang selalu ada.

Raka mengusap kepala anak itu.

“Kalau kita tetap berjalan di jalan yang benar…”

Ia kembali memandang langit.

“…insya Allah, suatu hari nanti kita akan bertemu lagi.”

Angin pagi berembus lembut.

Matahari bersinar hangat.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, lima orang itu tidak lagi merasa sedang melarikan diri dari masa lalu.

Mereka telah berdamai dengannya.

Karena mereka mengerti:

Tidak ada manusia yang terlalu jauh untuk kembali kepada Tuhan.

Selama hati masih mau mengetuk pintu-Nya, selalu ada jalan pulang.

Dan kadang-kadang, jalan pulang itu dimulai dari satu langkah kecil.

Satu penyesalan.

Satu doa.

Satu keberanian untuk berubah.

Lalu, perlahan…

Tuhan menuntun manusia pulang.

Pulang ke jalan-Nya.

  • Penulis: Kang WeHa
  • Editor: Kang WeHa

Rekomendasi Untuk Anda

  • Menkeu Purbaya Respons Dugaan Aliran Uang ke Dirjen Bea Cukai, Tegaskan Ikuti Arahan Presiden

    Menkeu Purbaya Respons Dugaan Aliran Uang ke Dirjen Bea Cukai, Tegaskan Ikuti Arahan Presiden

    • calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Jakarta, Warta Edukasi — Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menanggapi dugaan aliran dana kepada Direktur Jenderal Bea dan Cukai (Dirjen Bea Cukai) Djaka Budi Utama yang mencuat dalam persidangan kasus dugaan korupsi importasi barang. Purbaya menegaskan akan mengikuti arahan Presiden RI Prabowo Subianto terkait langkah yang akan diambil terhadap jajaran Direktorat Jenderal Bea dan […]

  • Usulan Jabatan Strategis Polri untuk Sipil dan Polemik Tembak Begal, Publik Soroti Keseimbangan HAM dan Keamanan

    Polemik Usulan Jabatan Strategis Polri untuk Sipil dan Perdebatan Soal Tembak Begal, Ini Dua Sudut Pandangnya

    • calendar_month Minggu, 7 Jun 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Jakarta, Warta Edukasi – Wacana membuka sejumlah jabatan strategis di lingkungan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) bagi kalangan sipil profesional memunculkan perdebatan publik. Di satu sisi, usulan tersebut dinilai dapat memperkuat profesionalisme dan tata kelola organisasi. Namun di sisi lain, muncul kekhawatiran bahwa karakter khusus institusi kepolisian dapat tergerus. Perdebatan ini mencuat setelah Menteri Hak […]

  • Mengabdi Tanpa Pamrih, Mega saputra Bertekad Wujudkan Perubahan Nyata untuk kesejahteraan masyarakat

    Mengabdi Tanpa Pamrih, Mega saputra Bertekad Wujudkan Perubahan Nyata untuk kesejahteraan masyarakat

    • calendar_month Senin, 27 Jul 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Tulang Bawang Barat, Warta Edukasi – Di tengah harapan masyarakat akan hadirnya pemimpin yang jujur, amanah, dan dekat dengan rakyat, nama Mega Saputra mulai menjadi perhatian warga Tiyuh Karta Tanjung Selamat, Kecamatan Tulang Bawang Udik, Kabupaten Tulang Bawang Barat. Dengan semangat pengabdian dan tekad membangun kampung halaman pemuda kelahiran Tiyuh Karta Tanjung Selamat itu menyatakan […]

  • Pemeriksaan Kesehatan Tahanan Polres Tubaba

    Pelayanan Prima hingga Balik Jeruji, Sie Dokkes Polres Tubaba Rutin Periksa Kesehatan Tahanan

    • calendar_month Selasa, 2 Jun 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Tulang Bawang Barat, Warta Edukasi – Seksi Kedokteran Kepolisian dan Kesehatan (Sie Dokkes) Polres Tulang Bawang Barat (Tubaba), Polda Lampung, melaksanakan pemeriksaan kesehatan rutin terhadap para tahanan yang berada di Rumah Tahanan (Rutan) Mapolres Tubaba, Selasa (2/6/2026) pagi. Kegiatan tersebut dilakukan oleh tim Sie Dokkes yang terdiri dari Aiptu Badar Johan, A.Md.KG., Briptu Andi Prabowo, A.Md.Kep., […]

  • Rupiah Hampir Sentuh Rp17.800 per Dolar AS, Menkeu Purbaya: “Saya Stres”

    Rupiah Hampir Sentuh Rp17.800 per Dolar AS, Menkeu Purbaya: “Saya Stres”

    • calendar_month Kamis, 28 Mei 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Jakarta, Warta Edukasi – Nilai tukar rupiah tercatat hampir menyentuh level Rp17.800 per dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan pasar spot, Selasa (26/5/2026). Kondisi tersebut menjadi sorotan pelaku pasar valuta asing karena menunjukkan tekanan yang cukup kuat terhadap mata uang domestik. Berdasarkan data perdagangan, rupiah ditutup melemah 53 poin atau 0,29 persen ke level Rp17.796 […]

  • Pemerintah Batasi Akses Platform Digital Anak Demi Keamanan

    Pemerintah Batasi Akses Platform Digital Anak Demi Keamanan

    • calendar_month Jumat, 6 Mar 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Jakarta, Wartaedukasi.com – Pemerintah batasi akses platform digital anak demi keamanan melalui kebijakan baru yang dikeluarkan oleh Kementerian Komunikasi dan Digital. Kebijakan tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri Nomor 9 Tahun 2026 yang mengatur pembatasan penggunaan platform digital bagi anak di bawah usia 16 tahun. Melalui aturan tersebut, pemerintah melarang anak di bawah 16 tahun memiliki […]

expand_less