Breaking News
light_mode

Ramadhan di Negeri Antah Berantah: Puasa di Tengah Meja yang Tak Sama Tingginya

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Sabtu, 21 Feb 2026
  • print Cetak

Ramadhan di Negeri Antah Berantah: Puasa di Tengah Meja yang Tak Sama Tingginya

Di sebuah negeri bernama Antah Berantah, Ramadhan selalu datang dengan gegap gempita. Lampu-lampu hias menyala lebih terang dari biasanya. Spanduk ucapan selamat berpuasa membentang di jalan-jalan utama. Diskon besar terpampang di pusat perbelanjaan. Mimbar-mimbar dipenuhi tausiah tentang sabar, ikhlas, dan berbagi.

Namun di sudut-sudut gang sempit, ada cerita yang tak masuk dalam baliho.

Di negeri itu, puasa dimaknai berbeda-beda. Bagi sebagian orang, puasa adalah momentum detoks jiwa. Agenda buka bersama terjadwal rapi, menu berbuka lebih kaya dari hari biasa. Kurma impor tersusun cantik, minuman manis berjejer seperti parade kemewahan. Ramadhan menjadi musim konsumsi.

Sementara bagi sebagian lainnya, puasa tak pernah benar-benar berbeda dari hari biasa. Sebab lapar bukan tamu musiman. Ia penghuni tetap.

Di Antah Berantah, meja-meja tidak sama tingginya. Ada meja yang penuh hingga tak muat menampung hidangan. Ada pula meja reyot yang bahkan tak memiliki piring tetap. Ketika azan Maghrib berkumandang, ada yang bingung memilih takjil, ada pula yang bingung mencari makan.

Ironinya, di bulan yang disebut bulan kepedulian, jurang justru tampak lebih jelas. Media sosial penuh foto sajian berbuka, tetapi jarang memotret dapur yang kosong. Ceramah tentang sedekah terdengar nyaring, tetapi sistem yang melanggengkan kesenjangan tetap berdiri kokoh.

Ramadhan sejatinya mengajarkan rasa. Rasa lapar agar kita mengerti. Rasa haus agar kita peduli. Tapi di Antah Berantah, rasa itu kadang berhenti di tenggorokan. Ia tak turun menjadi kebijakan. Tak berubah menjadi keberpihakan. Tak menjelma keadilan.

Puasa bukan sekadar menahan makan dan minum. Ia adalah latihan empati sosial. Ketika seseorang mampu menahan diri dari yang halal, seharusnya ia juga mampu menahan diri dari ketamakan. Ketika kita diajarkan berbagi, seharusnya bukan hanya sisa, tapi juga ruang dan kesempatan.

Di negeri itu, ada pekerja yang tetap berkeringat di bawah terik siang Ramadhan demi upah yang tak cukup membeli kebutuhan pokok. Ada anak-anak yang berbuka dengan air putih dan doa. Ada pula pejabat yang berbuka dengan jamuan mewah sambil berbicara tentang kesederhanaan.

Kontras itu bukan kebetulan. Ia adalah cermin.

Mungkin Ramadhan di Antah Berantah bukan kekurangan ceramah. Bukan kekurangan acara religi. Yang kurang adalah keberanian memaknai puasa sebagai gerakan sosial. Sebagai momentum memperkecil jarak. Sebagai waktu menata ulang keadilan.

Sebab jika setelah sebulan berpuasa, yang kenyang tetap semakin kenyang dan yang lapar tetap semakin lapar, maka yang berubah mungkin hanya jadwal makan—bukan keadaan.

Ramadhan semestinya tidak hanya mengosongkan perut, tetapi juga membersihkan struktur yang timpang. Ia bukan sekadar ritual individual, melainkan panggilan kolektif.

Dan di titik inilah Ramadhan diuji: apakah ia hanya menjadi seremoni tahunan, atau benar-benar menjadi energi perubahan?


Penutup Ala Kang WeHa

Ramadhan bukan panggung pencitraan. Ia bukan musim diskon empati dan bukan sekadar lomba unggah hidangan. Jika puasa hanya berhenti di perut sementara ketidakadilan tetap subur di meja-meja kekuasaan, maka yang kita rayakan bukan kesucian—melainkan ironi.

Di Negeri Antah Berantah, azan mungkin berkumandang serentak, tetapi kenyang tak pernah dirasakan serentak. Pertanyaannya sederhana: apakah kita benar-benar berpuasa dari ketamakan, atau hanya menunda lapar sebelum kembali pada kesenjangan yang sama?

Sebab hakikat Ramadhan bukan tentang siapa yang paling mewah berbuka, melainkan siapa yang paling berani membela yang lapar. Dan keimanan, pada akhirnya, selalu diuji bukan di sajadah—melainkan di keberpihakan.

  • Penulis: Redaksi

Rekomendasi Untuk Anda

  • “Lunik Hati Sai Patah”

    “Lunik Hati Sai Patah”

    • calendar_month Rabu, 4 Mar 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    “Lunik Hati Sai Patah” Oleh : Kang WeHa Di lamban sunyi niku ku teduh,Hujan rintik ngusap pipi.Nyou mak lagi di sampingku,Tapi bayangmu mak ilang di hati. Way mata turun tanpa suara,Niku janji sai ghadu kau ucap.Katamu cinta mak bak berubah,Nyatanya tinggal kenangan gelap. Aku ghadu percayo sepenuh jiwa,Ngatur mimpi di bawah bulan.Tapi nyou milih jalan […]

  • Kepalo Tiyuh Mulya Sari Ajak Warga Jalankan Ibadah Puasa dengan Sepenuh Hati

    Kepalo Tiyuh Mulya Sari Ajak Warga Jalankan Ibadah Puasa dengan Sepenuh Hati

    • calendar_month Minggu, 8 Mar 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Tulang Bawang Barat, wartaedukasi.com – Memasuki bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah, Kepalo Tiyuh Mulya Sari, Kecamatan Gunung Agung, Kabupaten Tulang Bawang Barat, Muhammad Jainuri, mengajak seluruh masyarakat untuk menjalankan ibadah puasa dengan sepenuh hati sebagai bentuk rasa syukur atas berbagai nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT. Ajakan tersebut disampaikan melalui pesan resmi Pemerintah Tiyuh […]

  • Mendikdasmen Abdul Mu’ti Pastikan 100 Persen Sekolah Terdampak Bencana di Sumatra Kembali Belajar

    Mendikdasmen Abdul Mu’ti Pastikan 100 Persen Sekolah Terdampak Bencana di Sumatra Kembali Belajar

    • calendar_month Sabtu, 21 Feb 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Jakarta, Wartaedukasi.com – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, memastikan seluruh sekolah terdampak bencana di wilayah Sumatra telah kembali melaksanakan kegiatan pembelajaran secara penuh. Capaian 100 persen ini menjadi fondasi penting dalam percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi sektor pendidikan di Provinsi Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Dalam Rapat Koordinasi Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana […]

  • “Kursi Kekuasaan di Tengah Jalan Berlubang”

    “Kursi Kekuasaan di Tengah Jalan Berlubang”

    • calendar_month Sabtu, 9 Mei 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Cerpen Satir: Jalan yang Tiba-Tiba Tak Boleh Diributkan Oleh : Kang WeHa Di sebuah daerah kecil bernama SukaMaju, jalan utama menuju pasar terlihat seperti peta bulan. Lubang di mana-mana. Ada yang kecil, ada yang cukup besar untuk membuat motor masuk setengah roda. Setiap pagi, warga melewatinya dengan ritual yang sama: mengerem mendadak, menghindar zig-zag, dan […]

  • Ketua Pembina Yayasan Madani Lepas Siswa SMP IT, Pesan Ahlak dan Ibadah Jadi Sorotan

    Ketua Pembina Yayasan Madani Lepas Siswa SMP IT, Pesan Ahlak dan Ibadah Jadi Sorotan

    • calendar_month Kamis, 21 Mei 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Tulang Bawang Barat, Warta Edukasi, 21 Mei 2026 — Ketua Pembina Yayasan Madani Tulang Bawang Barat menyampaikan pesan motivasi kepada para siswa Kelas IX SMP IT Madani Angkatan ke-5 dalam acara pelepasan yang digelar di Gedung SMP IT Madani Tulang Bawang Barat, Kamis (21/5/2026). Kegiatan tersebut dihadiri Pengawas Pembina SMP IT Madani, H. Wahidin, M.Pd., […]

  • Satres Narkoba Polres Tubaba Amankan Dua Pelaku, Sabu 16,55 Gram Disita

    Satres Narkoba Polres Tubaba Amankan Dua Pelaku, Sabu 16,55 Gram Disita

    • calendar_month Kamis, 19 Feb 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Tulang Bawang Barat, wartaedukasi.com — Satuan Reserse Narkoba Polres Tulang Bawang Barat kembali berhasil mengungkap kasus dugaan penyalahgunaan narkotika dengan mengamankan dua pria pada Minggu (15/2/2026) sekitar pukul 01.30 WIB. Kedua tersangka masing-masing berinisial IS (35), warga Tiyuh Candra Kencana, dan DKY (29), warga Tiyuh Mulya Kencana, Kecamatan Tulang Bawang Tengah, Kabupaten Tulang Bawang Barat. […]

expand_less