Breaking News
light_mode

Paripurna Sepi, Komitmen Ikut Absen?

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Kamis, 9 Apr 2026
  • print Cetak

Oleh: Wawan Hidayat, Ketua DPD Jaringan Pendamping Kebijakan Pembangunan (JPKP) Tubaba

Tulang Bawang Barat baru saja merayakan hari jadinya. Sebuah momentum yang seharusnya tidak sekadar dirayakan dengan seremoni, tetapi juga direnungkan dengan kesadaran penuh: tentang perjalanan, capaian, dan tentu saja, tanggung jawab yang belum tuntas.
Namun, apa yang tampak di ruang Rapat Paripurna Istimewa DPRD Tubaba pada 6 April 2026 di aula kantor DPRD, justru menyisakan pertanyaan yang lebih nyaring daripada tepuk tangan.
Dari 35 anggota DPRD, hanya 18 yang hadir. Sisanya, 17 orang, memilih tidak tampak di kursi yang sejatinya mereka wakili atas nama rakyat.
Rapat yang dipimpin oleh Ketua DPRD, Busroni, tetap berjalan. Namun, sulit menutup mata bahwa sebagian kursi kosong seolah ikut “berbicara”—tentang sesuatu yang barangkali lebih dalam dari sekadar ketidakhadiran.
Pertanyaannya sederhana: jika dalam momentum yang disebut sakral seperti HUT daerah saja kehadiran menjadi pilihan, lalu di mana letak prioritas pengabdian itu sebenarnya?
Paripurna bukan sekadar agenda formal. Ia adalah simbol penghormatan terhadap sejarah daerah, terhadap para pendiri, dan terhadap masyarakat yang hari ini masih menaruh harapan pada lembaga legislatif.
Ironisnya, dalam ruang yang seharusnya penuh makna itu, justru yang terasa adalah ruang kosong—bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara simbolik.
Publik tentu tidak berlebihan jika mulai bertanya: apakah kehadiran dalam forum resmi kini sudah menjadi hal opsional? Ataukah komitmen memang sedang mengalami redefinisi—di mana tanggung jawab bisa dinegosiasikan, dan absensi menjadi hal yang lumrah?
Kita tidak sedang membicarakan hal besar. Tidak ada tuntutan yang muluk. Rakyat hanya ingin melihat wakilnya hadir—secara fisik dan moral—dalam momentum penting daerahnya sendiri.
Sebab, jika kursi lebih sering kosong dalam kewajiban, tetapi selalu penuh saat berbicara soal hak, maka yang hilang bukan sekadar kehadiran. Yang hilang adalah kepercayaan.
Tubaba tidak dibangun dalam sehari. Ia lahir dari proses panjang, dari kerja keras, dan dari harapan banyak orang. Maka merayakan hari jadinya semestinya bukan sekadar rutinitas tahunan, tetapi refleksi bersama—yang dihadiri dengan kesadaran, bukan sekadar diingat dalam agenda.
Jika tidak, maka kita patut khawatir: jangan-jangan yang absen bukan hanya anggota dewan, tetapi juga rasa memiliki itu sendiri.

  • Penulis: Redaksi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ayah di Tubaba Ditangkap Usai Aniaya Anak Kandung, Diduga Dipicu Halusinasi Sabu

    Ayah di Tubaba Ditangkap Usai Aniaya Anak Kandung, Diduga Dipicu Halusinasi Sabu

    • calendar_month Jumat, 1 Mei 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Tulang Bawang Barat, wartaedukasi — Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Sat Reskrim Polres Tulang Bawang Barat, Polda Lampung, mengamankan seorang pria berinisial RY (34), warga Tiyuh Cahyo Randu, Kecamatan Pagar Dewa, Kabupaten Tulang Bawang Barat, atas dugaan tindak pidana kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) sekaligus kekerasan terhadap anak di bawah umur. Peristiwa tragis tersebut […]

  • Ekonomi RI Tumbuh 5,61 Persen di Awal 2026, Pemerintah Klaim Keluar dari “Kutukan” 5 Persen

    Ekonomi RI Tumbuh 5,61 Persen di Awal 2026, Pemerintah Klaim Keluar dari “Kutukan” 5 Persen

    • calendar_month Rabu, 6 Mei 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Oleh : Kang weHa Wartaedukasi – Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 tercatat mencapai 5,61 persen secara tahunan (year on year/yoy). Capaian ini dinilai menjadi sinyal positif bahwa ekonomi domestik mulai keluar dari tren stagnasi di kisaran 5 persen yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menyebut angka tersebut sebagai […]

  • NEGERI YANG MENJUAL MALU

    NEGERI YANG MENJUAL MALU

    • calendar_month Minggu, 22 Feb 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    NEGERI YANG MENJUAL MALU Penulis : Kang WeHa Di negeri ini,korupsi disebut kekhilafan,kemiskinan disebut kurang bersyukur,dan kritik disebut ancaman ketertiban. Kami diajari mencintai tanah air,tapi tanah kami dijual meteran.Hutan dibabat atas nama investasi,lalu banjir disebut takdir Tuhanyang “tidak bisa diprediksi.” Di podium megah berpendingin ruangan,mereka bicara tentang rakyat kecil—seolah-olah kami ini dongengyang enak diceritakantanpa perlu […]

  • Menyambut Ramadhan: Bulan Pembongkaran Diri, Bukan Sekadar Menahan Lapar

    Menyambut Ramadhan: Bulan Pembongkaran Diri, Bukan Sekadar Menahan Lapar

    • calendar_month Kamis, 12 Feb 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Oleh : Majelis Sholawat Nariyah Tubaba Ramadhan selalu datang dengan suasana yang khas. Masjid mulai ramai, spanduk ucapan marak terpasang, dan ucapan “Marhaban ya Ramadhan” berseliweran di berbagai ruang. Namun pertanyaannya, sudahkah kita benar-benar memahami apa yang sedang kita sambut? Banyak orang memaknai Ramadhan sebatas bulan menahan lapar dan dahaga. Padahal Al-Qur’an telah menegaskan tujuan […]

  • DPD PSI Tubaba Tebar Semangat “Jumat Berkah”, Ratusan Warga Lambu Kibang Sambut Antusias

    DPD PSI Tubaba Tebar Semangat “Jumat Berkah”, Ratusan Warga Lambu Kibang Sambut Antusias

    • calendar_month Sabtu, 1 Agt 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Tulang Bawang Barat, Warta Edukasi – Semangat berbagi terus ditunjukkan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kabupaten Tulang Bawang Barat melalui aksi sosial “Jumat Berkah” dengan membagikan paket makan gratis kepada masyarakat di Kecamatan Lambu Kibang, Jumat (31/7/2026). Kegiatan tersebut mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Sejak pagi, para pengendara, pekerja, hingga warga yang […]

  • Bolo Ngarit, KUR dan Kambing yang Kehilangan Harga Diri

    Bolo Ngarit, KUR dan Kambing yang Kehilangan Harga Diri

    • calendar_month Kamis, 7 Mei 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Opini Publik Oleh : Kang WeHa Di kampung-kampung Kabupaten Tulang Bawang Barat, ada satu profesi yang belakangan terasa makin akrab di telinga masyarakat Bolo Ngarit. Pagi mencari rumput. Siang membersihkan kandang. Sore memberi pakan. Malam menghitung cicilan. Di atas kertas semua terlihat seperti kisah sukses ekonomi rakyat. Pemerintah datang membawa slogan pemberdayaan “Peternakan rakyat harus […]

expand_less